Holding BUMN sektor farmasi berencana membuat alat pendeteksi dini khusus virus corona.Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Honesti Basir mengatakan, saat ini perseroan tengah berkomunikasi dengan Kementerian Kesehatan,lembaga riset domestik, serta lembaga riset internasional untuk mencari formula yang tepat guna mencegah penyebaran virus corona.
Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir mengatakan pembuatan vaksin membutuhkan waktu hingga 15 tahun,sehingga pihak holding BUMN farmasi pun tidak mengutamakan pembuatan vaksin namun memilih kepada alat pendeteksi virus corona.
"Kalau kita bicarakan bikin vaksin normal itu lumayan lama, itu butuh waktu 15 tahun dari nol. Makanya kita harus bersinergi dengan lembaga riset sehingga tidak dari nol," ujar dia. Ia Juga memberikan saran kepada masyarakat untuk tidak panik dan melakukan pencegahan terjangkitnya virus corona dengan menjaga pola hidup sehat dan dengan baik. Dengan demikian hal tersebut daya tahan tubuh tetap terjaga.
Sebelumnya, dengan terbentuknya holding farmasi itu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir langsung meminta perusahaan farmasi pelat merah segera melakukan riset untuk membuat vaksin corona.
"Pak Erick mendorong Bio Farma dan kawan-kawan untuk mencarikan atau melakukan riset secepatnya untuk (ciptakan) vaksin, mana tahu kita punya tumbuh-tumbuhan yang bisa dipakai untuk melawan ini (Virus Corona)," ujar Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga saat ditemui di Kementerian BUMN.
Tak hanya itu, lanjut Arya (Staffsus BUMN) , Kementerian BUMN juga meminta rumah sakit milik perusahaan plat merah meningkatkan kualitas pengawasan dan pelayanannya demi mencegah penyebarluasan virus ini.
"Rumah sakit yang dipunyai BUMN harus antisipasi kalau ada pasien yang tersuspect corona," sambungnya.
"Kalau kita bicarakan bikin vaksin normal itu lumayan lama, itu butuh waktu 15 tahun dari nol. Makanya kita harus bersinergi dengan lembaga riset sehingga tidak dari nol," ujar dia.