Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia tidak hanya berdampak pada kualitas udara.
Gangguan terhadap habitat juga membuat sejumlah satwa, termasuk ular, berpotensi mencari tempat berlindung hingga mendekati area permukiman warga.
Kondisi tersebut kemudian kembali memunculkan salah satu kepercayaan yang cukup dikenal masyarakat, yakni anggapan bahwa menaburkan garam di sekitar rumah bisa mencegah atau mengusir ular.
Mitos soal garam sebagai pengusir ular sudah cukup lama beredar. Banyak orang percaya ular akan menghindari area yang diberi garam karena dianggap tidak menyukai zat tersebut.
Namun, anggapan tersebut tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. Garam bukan bahan khusus yang dapat digunakan untuk mengusir ular. Ular juga tidak serta-merta menjauh hanya karena menemukan garam di suatu tempat.
Justru ketika habitatnya terganggu, ular bisa berpindah mencari lokasi yang lebih aman untuk berlindung dan mendapatkan makanan. Rumah atau bangunan di sekitar habitatnya pun bisa menjadi tempat yang mereka datangi.
Karena itu, menjaga lingkungan rumah tetap bersih dan menutup celah yang bisa menjadi akses masuk ular menjadi langkah yang lebih masuk akal dibanding mengandalkan garam.
Jadi, kalau selama ini kamu pernah mendengar bahwa garam bisa membuat ular pergi, anggapan tersebut lebih tepat disebut sebagai mitos, bukan cara yang terbukti ampuh untuk mengusir ular.






