Saat banyak perusahaan teknologi berlomba menciptakan kecerdasan buatan yang semakin cepat dan pintar, Anthropic memilih fokus pada hal lain yang tak kalah penting: kepribadian AI.
Di balik chatbot Claude yang dikenal ramah, sopan, dan penuh empati, terdapat sosok Amanda Askell, seorang filsuf asal Skotlandia yang dipercaya membentuk karakter AI tersebut.
Amanda bukan berasal dari dunia teknik komputer. Latar belakangnya justru berada di bidang filsafat dan etika. Ketertarikannya pada moralitas, cara manusia mengambil keputusan, hingga makna kehidupan sudah tumbuh sejak usia muda.
Ketertarikan itu kemudian membawanya menempuh pendidikan filsafat hingga meraih gelar doktor di New York University (NYU).
Sebelum bergabung dengan Anthropic, Amanda sempat menjadi bagian dari OpenAI dan ikut terlibat dalam penelitian GPT-3. Namun, ia memutuskan hengkang karena merasa isu keselamatan dan tanggung jawab AI perlu mendapatkan perhatian yang lebih besar seiring pesatnya perkembangan teknologi.
Pada 2021, Anthropic merekrut Amanda dengan tugas yang tidak biasa: merancang kepribadian Claude. Ia kemudian mengembangkan sistem yang dikenal sebagai Constitutional AI, sebuah pendekatan yang mengajarkan AI untuk memahami prinsip-prinsip moral melalui seperangkat aturan dan nilai yang telah disusun secara khusus.
Nilai-nilai tersebut terinspirasi dari berbagai sumber, mulai dari prinsip hak asasi manusia hingga perlindungan privasi pengguna.
Tujuannya bukan sekadar membuat AI yang patuh pada aturan, melainkan mampu memberikan respons yang jujur, membantu, dan meminimalkan risiko bahaya bagi pengguna.
Hasil dari pendekatan tersebut terlihat jelas pada cara Claude berinteraksi. Chatbot ini dikenal mampu menunjukkan empati saat merespons pengguna tanpa terdengar menghakimi atau menggurui.
Karakter itulah yang membuat Claude mendapat banyak apresiasi dan menjadi salah satu AI paling dipercaya oleh penggunanya.
Berkat kontribusinya dalam membangun AI yang lebih manusiawi, nama Amanda Askell masuk dalam daftar tokoh paling berpengaruh di dunia AI versi TIME pada 2024.
Kisahnya membuktikan bahwa perkembangan kecerdasan buatan tidak hanya membutuhkan teknologi canggih, tetapi juga sentuhan nilai-nilai kemanusiaan.






