Pejabat Bank Dunia Minta Maaf soal Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026 Turun

Pejabat Bank Dunia Minta Maaf soal Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026 Turun

Sherin Monica
2026-04-17 13:32:46
Pejabat Bank Dunia Minta Maaf soal Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026 Turun
Purbaya Yudhi Sadewa Buka Suara Soal Proyeksi Ekonomi RI

Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa seorang pejabat Bank Dunia sempat meminta maaf setelah lembaganya menurunkan proyeksi ekonomi Indonesia 2026. Pernyataan itu disampaikan Purbaya usai bertemu langsung dengan pihak yang menyusun outlook tersebut dalam rangkaian pertemuan di Washington DC, Amerika Serikat.

Menurut Purbaya, pejabat yang membuat prediksi itu mengakui penurunan proyeksi dilakukan terlalu cepat. Ia menyebut permintaan maaf tersebut bahkan disampaikan lebih dari satu kali.

“Dia minta maaf, katanya terlalu cepat menurunkannya,” ujar Purbaya dalam wawancara eksklusif, Jumat (17/4/2026).


Purbaya Sebut Outlook Dipublikasikan Tanpa Koordinasi Penuh


Purbaya juga menyampaikan bahwa proyeksi tersebut disebut terbit tanpa melalui koordinasi penuh dengan atasan ekonom yang bersangkutan di Indonesia. Ia mengatakan ada kekeliruan dalam proses publikasi laporan tersebut.

Menurut penjelasannya, pejabat Bank Dunia itu mengaku dokumen tersebut dipublikasikan tanpa terlebih dahulu melapor kepada atasannya. Meski demikian, Purbaya menegaskan pemerintah Indonesia tidak meminta adanya revisi dalam waktu dekat.

Sebaliknya, ia memilih untuk membuktikan bahwa proyeksi tersebut tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

“Saya bilang tidak usah diubah sekarang, tapi ke depan saya akan buktikan mereka salah,” kata Purbaya.


Bank Dunia Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026

Sebelumnya, Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 menjadi 4,7 persen, dari perkiraan sebelumnya 4,8 persen. Proyeksi itu tertuang dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026 yang dirilis pada Rabu (8/4/2026).

Meski mengalami revisi turun, angka pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di atas rata-rata kawasan Asia Timur dan Pasifik yang diproyeksikan hanya mencapai 4,2 persen.

Kawasan Asia Timur dan Pasifik sendiri mencakup sejumlah negara seperti China, Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, hingga negara-negara Kepulauan Pasifik.


Purbaya Yakin Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat

Menanggapi penurunan outlook tersebut, Purbaya menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup solid untuk menopang pertumbuhan di tengah ketidakpastian global. Ia optimistis laju ekonomi nasional tetap dapat melampaui angka proyeksi yang ditetapkan Bank Dunia.

Menurutnya, perekonomian domestik Indonesia masih memiliki daya tahan yang baik, bahkan saat dunia menghadapi tekanan dari berbagai faktor eksternal.

“Fondasi ekonomi kita bagus dan kita akan tumbuh lebih cepat dari 4,8 persen. Walaupun ada gejolak global, kita bisa meredam, jadi ekonomi domestik tetap tumbuh baik,” ujarnya.


Faktor Global yang Tekan Outlook Ekonomi Asia Timur dan Pasifik

Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, Aaditya Mattoo, sebelumnya menjelaskan bahwa prospek ekonomi kawasan dipengaruhi oleh tiga faktor eksternal utama.

Pertama, konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga energi. Kedua, pembatasan perdagangan di Amerika Serikat serta ketidakpastian kebijakan global. Ketiga, perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan atau AI yang ikut mengubah lanskap ekonomi global.

Faktor-faktor tersebut dinilai memengaruhi proyeksi pertumbuhan di kawasan, termasuk ekonomi Indonesia 2026.


Share :