Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi Indonesia akan menghadapi fenomena El Nino dengan intensitas kuat mulai April 2026. Fenomena ini disebut berpotensi lebih ekstrem dari biasanya dan dapat memengaruhi kondisi cuaca secara luas di berbagai wilayah.
El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang berdampak pada penurunan curah hujan di Indonesia. Kondisi ini berpotensi membuat musim kemarau berlangsung lebih panjang dan lebih kering dibandingkan tahun-tahun normal.
Dampak kekeringan diperkirakan akan lebih terasa di wilayah selatan Indonesia, seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Wilayah-wilayah ini berisiko mengalami penurunan ketersediaan air, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun sektor pertanian.
Selain itu, peningkatan suhu udara juga menjadi salah satu dampak yang perlu diwaspadai. Kondisi yang lebih panas dan kering dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Menghadapi potensi tersebut, kesiapsiagaan menjadi langkah penting. Pengelolaan sumber daya air, antisipasi kebakaran, serta upaya menjaga ketahanan pangan perlu dilakukan sejak dini agar dampak El Nino dapat diminimalkan.






