Penentuan Hari Raya Idul Fitri setiap tahun sering menjadi perhatian masyarakat karena melibatkan metode perhitungan dan pengamatan yang berbeda. Untuk Lebaran 2026, sejumlah lembaga dan organisasi di Indonesia seperti BRIN, BMKG, Muhammadiyah, Pemerintah, dan Nahdlatul Ulama telah memiliki perkiraan masing-masing mengenai kemungkinan tanggal 1 Syawal 1447 Hijriah.
Secara perhitungan astronomi, beberapa lembaga memperkirakan Idul Fitri 2026 berpotensi jatuh pada akhir Maret 2026. Prediksi ini didasarkan pada posisi hilal atau bulan sabit muda yang menjadi penanda awal bulan Syawal dalam kalender Hijriah. Data astronomi menunjukkan bahwa fase bulan baru terjadi menjelang akhir bulan Ramadan.
Muhammadiyah yang menggunakan metode hisab biasanya dapat menetapkan tanggal Lebaran lebih awal karena berbasis pada perhitungan matematis dan astronomi. Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama tetap menggunakan metode rukyat atau pengamatan hilal yang akan diputuskan secara resmi melalui sidang isbat menjelang akhir Ramadan.
Di sisi lain, organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama juga mengutamakan metode rukyat dengan mempertimbangkan laporan pengamatan hilal dari berbagai titik di Indonesia. BMKG dan BRIN berperan menyediakan data astronomi serta informasi ilmiah mengenai posisi bulan yang menjadi bahan pertimbangan dalam proses penentuan awal Syawal.
Meski sudah ada berbagai prediksi, keputusan resmi mengenai tanggal Idul Fitri tetap menunggu hasil pengamatan hilal dan sidang isbat pemerintah. Karena itu, masyarakat diimbau untuk menunggu pengumuman resmi agar pelaksanaan Lebaran dapat berjalan serentak dan sesuai dengan ketetapan yang berlaku.






