Elon Musk menyatakan bahwa China memiliki peluang besar untuk menjadi pemimpin global dalam pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Pernyataan tersebut menyoroti pesatnya kemajuan teknologi China, mulai dari riset, pengembangan model AI, hingga penerapannya di berbagai sektor strategis.
Menurut pandangan Musk, kekuatan utama China terletak pada skala data yang besar, dukungan pemerintah yang konsisten, serta ekosistem industri teknologi yang terintegrasi. Kombinasi tersebut memungkinkan China bergerak cepat dalam mengembangkan AI, baik untuk kepentingan komersial maupun kebutuhan nasional.
Sejumlah pakar teknologi mengamini pandangan tersebut dengan menilai bahwa China telah berhasil membangun fondasi AI yang kuat. Investasi besar di bidang pendidikan sains, teknologi, dan rekayasa turut mempercepat lahirnya talenta-talenta unggul yang mendorong inovasi berkelanjutan.
Selain itu, penerapan AI di China dinilai lebih luas dan masif dibandingkan banyak negara lain. Teknologi ini telah dimanfaatkan dalam sektor manufaktur, transportasi, kesehatan, hingga layanan publik, sehingga mempercepat proses adopsi dan penyempurnaan sistem berbasis kecerdasan buatan.
Meski demikian, persaingan AI global diperkirakan akan semakin ketat. Negara-negara lain, termasuk Amerika Serikat dan kawasan Eropa, terus berupaya memperkuat regulasi, riset, serta kolaborasi internasional. Namun, dengan laju perkembangan saat ini, China dinilai memiliki posisi strategis untuk memainkan peran dominan dalam peta AI dunia di masa depan.






