3 Fakta Lengkap Aplikasi Octopus Buatan Hamish Daud, Bikin Pemulung Raih Rp 10 Juta Per Bulan

3 Fakta Lengkap Aplikasi Octopus Buatan Hamish Daud, Bikin Pemulung Raih Rp 10 Juta Per Bulan

Foto
Aplikasi Octopus Buatan Hamish Daud, Bikin Pemulung Raih Rp 10 Juta Per Bulan (Sumber Foto: Int).

Hamish Daud dan beberapa rekannya menciptakan aplikasi Octopus. Aplikasi ini berupaya memberikan solusi mengatasi masalah sampah bekas konsumsi (post consumed products).

Bahkan aplikasi Octopus untuk membantu pemulung meningkatkan pendapatan sembari melestarikan lingkungan. Pemulung atau yang disebut pelestari diklaim bisa mendapatkan Rp 10,4 juta per bulan.

Namun apakah aplikasi Octopus yang digadang-gadang bisa menjadi salah satu solusi mengatasi sampah? Berikut inilah 3 faktanya.

Aplikasi Octopus


Aplikasi Octopus murni dibuat anak-anak Indonesia dengan beragam keahlian dan memiliki kepedulian tinggi terhadap masalah sampah di Tanah Air. Octopus Indonesia berdiri di Makassar pada 2020. Kini tim Octopus Indonesia terdiri dari tujuh orang dengan beragam latar belakang, ada lulusan kampus Amerika Serikat seperti Massachusetts Institute of Technology.

Octopus merupakan platform ekonomi sirkular yang membantu produsen melacak dan mengumpulkan produk bekas konsumsi, baik yang dapat didaur ulang maupun yang tidak dapat didaur ulang. Platform Octopus memungkinkan produsen memberikan insentif langsung kepada para konsumen dan juga pelestari yang terlibat dalam pengiriman sampah kemasan ke industri daur ulang.

Dimana, gerakan ini memastikan baekosistem pengumpulan sampah yang etis berbasis teknologi, serta menyediakan model penetapan harga yang efektif untuk Industri Daur Ulang. Model pengumpulan produk Octopus juga dipastikan transparan untuk memberi manfaat bagi pemangku kepentingan limbah lokal.

“Cara baru untuk mengelola pengumpulan Kemasan Pasca Konsumen melalui pemangku kepentingan limbah lokal dengan standar harga dan kualitas. Kami merevolusi ekosistem perdagangan produk pasca konsumen saat ini untuk menciptakan model koleksi yang berdampak, efektif dan efisien,” demikian keterangan di laman resmi Octopus.

Bahkan hingga saat ini, Octopus telah menggaet 9.600 pelestari di sejumlah kota seperti Makassar, Bali, dan Bandung. Beberapa di antaranya pernah bekerja di perhotelan atau pengemudi ojek online dan memilih untuk menjadi pelestari alam.

“Banyak pekerja hotel yang gajinya dipotong setengah dan mereka menjadi pelestari. Ada juga driver ojek online,” ungkap Hamish Daud.

Bahkan, saat ini Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil pernah mengetes pelestari Octopus. Ketika itu, pelestari yang datang menguasai tiga bahasa, tengah menempuh pendidikan S2 dan sebelumnya bekerja di perhotelan.

Bantu Pemulung Raup Rp10 Juta/Bulan


Adapun pembuatan aplikasi Octopus yakni saat Hamish Daud berkunjung ke tempat pembuangan sampah Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat dan mencatat ada sekitar 5.000 pemulung menggantungkan nasibnya dengan tumpukan sampah.

Saat itu Hamish mendapati pemulung tersebut tidak mempunyai Kartu Tanda Penduduk dan sudah berusia lanjut. Maka dari itu Hamish, berupaya meningkatkan taraf hidup mereka serta menciptakan solusi pengangkutan sampah tanpa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA)

“Mulai November, pelestari kami bisa mendapatkan Rp 10,4 juta dalam sebulan,” kata Hamish dalam acara Ministry of Finance Festival 2021, dikutip dari Katadata.co.id, Jumat, 19 November 2021.

Lebih lanjut Hamish menambahkan bahwa, sampah-sampah di berbagai daerah bisa menggunung dengan cepat sehingga dibutuhkan gerakan yang mampu menanganinya. Oleh sebab itu, pemulung diganti namanya menjadi pelestari, diberikan seragam Octopus, ponsel, hingga terdaftar sebagai peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

“Jadi mereka bisa masuk ke perumahan, hotel, dan lainnya. Tidak perlu malu,” tambah Hamish Daud.

Cara Kerja Octopus


Dilansir dari IndonesianOceanPride.org, gerakan induk Octopus, dimana sampah yang dikumpulkan pelestasi nantinya akan dikonversikan menjadi poin. Dari poin tersebut bisa ditukar menjadi uang dengan cara proses tarik tunai lewat aplikasi Octopus dan voucer belanja.

Bahkan, gerakan pecinta alam yang dikembangkan Hamish Duad ini dapat membantu dunia dalam melestarikan lingkungan akibat sampah. Dimana, menurut laporan Bain & Company, Microsoft, dan Temasek Holdings Singapura yang berjudul ‘Southeast Asia's Green Economy: Opportunities on the Road to Net Zero’, Asia Tenggara membutuhkan investasi US$2 triliun hingga 2030 untuk mengurangi emisi.

Maka dana tersebut nantinya bakal dialokasikan untuk berbagai upaya seperti mempercepat peralihan ke energi hijau, membuat sektor pertanian pangan menjadi lebih efisien, mengurangi polusi, hingga cara yang tidak merusak lingkungan.

Bain & Company, Microsoft dan Temasek Holdings Singapura memperkirakan, 90% emisi di Asia Tenggara akan berkurang jika dana tersebut bisa digunakan sesuai dengan harapan. Selain itu, upaya transformasi bisnis menuju ekonomi ramah lingkungan di kawasan juga akan menawarkan keuntungan US$ 1 triliun per tahun pada 2030.

Bahkan saat ini pemerintah Indonesia telah menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca hingga 29% dengan usaha sendiri dan 41% lewat dukungan internasional pada 2030. Adapun dana yang dibutuhkan untuk mencapai target tersebut sekitar Rp266,2 triliun.

"Indonesia memiliki ukuran dan sumber daya alam besar yang menjadi game changer di Asia Tenggara untuk keberlanjutan," demikian ungkap laporan Bain & Company, Microsoft dan Temasek Holdings Singapura.