Fakta Lengkap Gempa Swarm yang Guncang Samosir 63 kali

Fakta Lengkap Gempa Swarm yang Guncang Samosir 63 kali

Ekel Suranta Sembiring
2021-04-24 00:16:04
Fakta Lengkap Gempa Swarm yang Guncang Samosir 63 kali
Ilustrasi Gempa Swarm yang Guncang Samosir 63 kali (foto: internet)

Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) mencatat sejak Januari hingga 20 April 2021, Samosir, Sumatera Utara diguncang 63 kali gempa swarm. Gempa ini terjadi di dataran yang berada di tengah Danau Toba itu.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa dan Tsunami BMKG, Daryono mengatakan, Swarm adalah serangkaian aktivitas gempa dengan magnitudo relatif kecil dengan frekuensi kejadiannya sangat tinggi dan berlangsung dalam waktu yang relatif lama di wilayah sangat lokal.

Baca Juga: Viral Foto Gaji Petugas Kebersihan Pertamina Rp13 Juta, Ini Faktanya

Untuk mengetahui secara jauh, berikut beberapa fakta tentang gempa swarm yang gunjung Samoris 63 kali:

1.  Umumnya terjadi karena proses vulkanik

Pada umumnya, gempa terjadi akibat  aktivitas teknotik, gempa swarm justru terjadi karena proses kegunungapian (vulkanik). Gempa swarm yang dihasilkan karena aktivitas tektonik murni hanya sedikit.

Daryono menjelaskan gempa vulkanik swarm terjadi karena ada gerakan fluida magmatik yang mendesak dengan tekanan ke atas dan ke samping tubuh gunung melalui saluran magma (conduit) atau bagian yang lemah (fracture dan patahan) dari gunung.

"Intrusi magmatik yang memotong lapisan batuan ini disebut dike. Dengan energi dorong dan tekanan dike ke atas yang terus menerus melewati bagian tubuh gunung, maka akan terjadi proses rekahan perlahan-lahan hingga menyebabkan gempa kecil yang terjadi berulang-ulang dan tercatat oleh sensor seismograf," tambahnya.

Baca Juga: Deretan Artis Korea yang Diduga Operasi Payudara, dari Jessi hingga G. NA

2. Dapat terjadi di kawasan non-vulkanik

Gempa swarm tidak hanya berkaitan dengan kawasan gunung api. Daryono mengatakan, beberapa laporan BMKG menunjukkan aktivitas gempa swarm juga dapat terjadi di kawasan non-vulkanik.

"Swarm juga dapat terjadi di kawasan dengan karakteristik batuan yang rapuh, sehingga mudah terjadi retakan (fractures)," ujar Daryono. 

Baca Juga: Seorang Warga di Magelang Tewas Akibat Ledakan Marcon saat Sedang Diracik

3.  Tercatat telah terjadi beberapa kali di Indonesia

Selain di Samosir, fenomena gempa swarm sudah pernah terjadi beberapa kali di Indoesia. Di antaranya di Klangon, Madiun, pada Juni 2015; Halmahera Barat pada Desember 2015; dan Mamasa, Sulawesi Barat, pada November 2018.

Menurut Daryono, aktivitas gempa swarm ini memang jarang terjadi. Jika kekuatan gempa swarm cukup signifikan dan guncangannya sering dirasakan, memang dapat meresahkan masyarakat.

Namun, kata dia, sebenarnya tidak membahayakan jika bangunan rumah di zona swarm tersebut memiliki struktur yang kuat. 

Walaupun tidak membahayakan, Daryono menegaskan tidak ada salahnya untuk tetap berhati-hati dan selalu waspada. Informasi terkait bencana yang terjadi sekitar lingkungan, dapat kamu lihat pada situs resmi BMKG. 


Share :