6 Aneka Tradisi Unik dan Khas Sambut Ramadan dari Berbagai Daerah di Indonesia

6 Aneka Tradisi Unik dan Khas Sambut Ramadan dari Berbagai Daerah di Indonesia

Foto
Ilustrasi Tradisi Sambut Ramadan di Berbagai Derah (Foto:Pixabay)

Dengan adanya budaya dan ajaran Agama Islam membuat Indonesia memiliki tradisi unik dalam setiap perayaan keagamaan. Tradisi saat menyambut bulan Ramadan adalah salah satu kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia. Setiap daerah memiliki tradisinya sendiri-sendiri.

Di berbagai daerah di Indonesia, Ramadan disambut dengan sejumlah aktivitas. Kegiatan-kegiatan ini menjadi tradisi turun temurun yang masih dilakukan hingga saat ini.

Tradisi menyambut Ramadan di Indonesia berinti pada mensucikan diri, saling bermaafan, dan menjalin silaturahmi.

Baca Juga: Jelang Puasa Ramadhan, Inilah Tata Cara Mandi Wajib Lengkap dengan Bacaan Niat dan Doa

Bulan Ramadan memang harus disambut dengan penuh kegembiraan. Ini sesuai dengan hadis yang berbunyi:

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (Hadis shahih, dan diriwayatkan oleh An –Nasa’i)

Berikut 5 aneka tradisi sambut bulan Ramadan dari bergabai daerah di Indonesia dirangkum correcto.id dari berbagai sumber:

1. Nyorog - Betawi


Nyorog adalah tradisi masyarakat Betawi yang dilakukan dalam rangka menyambut bulan Ramadan. Nyorog dilakukan dengan membagikan berbagai bingkisan seperti sembako, ikan bandeng dan daging kerbau kepada sanak keluarga. Bingkisan nyorog biasanya juga bisa berupa makanan khas Betawi seperti sayur gabus pucung.

Tujuan dari nyorog adalah untuk mengingatkan bahwa bulan Ramadan akan segera datang dan Ramadan merupakan ajang untuk saling silaturahmi.

2. Nyadran - Jawa


Menjelang Ramadan, masyarakat Jawa khususnya Jawa Tengah dan Yogyakarta melakukan tradisi nyadran. Tradisi ini juga dikenal sebagai ruwahan. Nyadran adalah hasil akulturasi budaya Jawa dengan Islam. Nyadran diadakan satu bulan sebelum dimulainya puasa, atau pada 15, 20, dan 23 Ruwah.

Biasanya nyadran dilakukan dengan membersihkan makam orang tua atau keluarga lalu mendoakannya. Masyarakat yang melakukan tradisi Nyadran percaya, membersihkan makam adalah simbol dari pembersihan diri menjelang Bulan Suci. 

Bukan hanya hubungan manusia dengan Sang Pencipta, Nyadran dilakukan sebagai bentuk bakti kepada para pendahulu dan leluhur. Setelah nyadran biasanya ada acara kenduri atau makan bersama.

3. Meugang - Aceh


Meugang merupakan tradisi menyembelih kambing atau sapi yang dilakukan tiga kali dalam setahun, yaitu pada Ramadan, Idul Adha, dan Idul Fitri. Biasanya masyarakat memasak daging di rumah, setelah itu membawanya ke mesjid untuk makan bersama keluarga, kerabat, tetangga, atau yatim piatu.

Masyarakat Aceh percaya bahwa nafkah yang dicari selama 11 bulan wajib disyukuri dalam bentuk tradisi Meugang. Tradisi Meugang di desa biasanya berlangsung satu hari sebelum bulan Ramadan. Meugang dimulai sejak masa Kerajaan Aceh (1607-1636 Masehi).

4. Malamang - Sumatera Barat


Malamang merupakan tradisi di Sumatera Barat yang dilakukan dengan memasak lemang yang terbuat dari penggabungan antara beras ketan putih dan santan yang dimasukkan ke dalam bambu. Tradisi ini bertujuan sebagai sarana berkumpul dan mempererat tali silaturahmi sambil menyambut datangnya bulan Ramadan.

Malamang harus dikerjakan oleh banyak orang. Pasalnya, ada beberapa langkah yang harus dilakukan seperti mencari bambu sebagai tempat adonan lemang, mencari kayu bakar untuk memanggang lemang, serta mempersiapkan bahan pembuatan lemang. Jadi diperlukan kerjasama dalam proses membuat lemang ini.

5. Megibung - Bali


Megibung merupakan tradisi warga Karangasem, Bali untuk menyambut bulan Ramadan. Megibung merupakan kegiatan makan bersama, dilakukan dengan beberapa kelompok orang duduk bersila dan membentuk lingkaran, dimana nasi telah tersedia beserta lauk pauknya di atas nampan. Satu kelompok tersebut dinamakan satu sela.

Acara makan-makan ini diselingi dengan obrolan obrolan ringan. Satu porsi nasi megibung biasanya dinikmati oleh delapan orang atau bisa juga oleh empat orang.

Baca Juga: Mengenal Metode Kalender Hisab Munjid, Cara Tarekat Naqsabandiyah Tentukan Awal Ramadhan

6. Bakar Batu - Papua


Di Papua, seperti di Jayapura umat Muslim menyambut Ramadhan dengan tradisi bakar batu. Disebut Bakar Batu karena batu dibakar hingga panas lalu ditumpuklah bahan makanan seperti daging ayam, kambing, sapi, dan umbi-umbian.

Tumpukan makanan ini kemudian ditutup lagi dengan batu panas hingga matang. Tradisi bakar batu dilakukan sebagai bagian dari kegiatan silaturahmi dan saling memaafkan sebelum Ramadan tiba.




Share to: