Masih Panas Isu Kudeta Militer, YouTube Hapus Beberapa Saluran TV yang Dikelola Militer Myanmar

Masih Panas Isu Kudeta Militer, YouTube Hapus Beberapa Saluran TV yang Dikelola Militer Myanmar

Yuli Nopiyanti
2021-03-05 14:15:03
Masih Panas Isu Kudeta Militer, YouTube  Hapus Beberapa Saluran TV yang Dikelola Militer Myanmar
Youtube hapus beberapa saluran tv yang dikelola militer Myanmar.

Masih panas dengan isu kudeta militer, Youtube hapus beberapa saluran tv yang dikelola militer Myanmar.

Hal ini juga dikatakan langsung oleh  induk YouTube, telah menghapus lima saluran jaringan televisi Myanmar yang dikelola militer yang berada di platformnya setelah kudeta di negara tersebut berlangsung.

"Kami telah menghentikan sejumlah saluran dan menghapus beberapa video dari YouTube sesuai dengan pedoman komunitas kami dan hukum yang berlaku," kata seorang juru bicara YouTube.

Baca Juga: Fakta Menarik Pernyataan Dubes RI Minta Para WNI Segera Pergi dari Myanmar, Akan Difasilitasi

Saluran yang dihapus Youtube, di antaranya, MRTV (Myanma Radio and Television), Myawaddy Media milik militer, MWD Variety, dan MWD Myanmar.

Penghapusan channel ini terjadi selama pekan paling berdarah sejauh ini dari protes anti-kudeta. 

Bahkan sedikitnya 38 orang tewas pada Rabu 3 Maret, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, ketika pasukan keamanan mencoba untuk membubarkan demonstrasi dan menggunakan peluru tajam di beberapa daerah.

Diketahui sebelumnya, Facebook juga menyatakan telah melarang militer Myanmar menggunakan platform Facebook dan Instagram. 

Kebijakan itu keluar setelah adanya demonstrasi massal akibat kudeta militer Myanmar.

"Hari ini, kami melarang militer Myanmar (Tatmadaw) dan entitas negara, serta media yang dikendalikan militer dari Facebook dan Instagram," ujar Direktur Kebijakan Facebook APAC.

Baca Juga: Fakta Menarik Pernyataan UNICEF Sebut 2 Juta Anak RI Jatuh Miskin Saat Bansos Disetop

Lebih lanjut dilansir dari Reuters melaporkan, pada hari Kamis bahwa tentara dan polisi Myanmar menggunakan TikTok untuk menyampaikan ancaman pembunuhan kepada pengunjuk rasa.

Para peneliti mengatakan bahwa setelah larangan Facebook, militer mencoba membangun kehadirannya di platform lain.


Share :