Kisah Misteri Tongkat Soekarno, Konon Pengawal Presiden AS Tak Kuat Mengangkatnya saat Tinggal di Gedung Putih

Kisah Misteri Tongkat Soekarno, Konon Pengawal Presiden AS Tak Kuat Mengangkatnya saat Tinggal di Gedung Putih

Ekel Suranta Sembiring
2021-02-20 21:05:43
Kisah Misteri Tongkat Soekarno, Konon Pengawal Presiden AS Tak Kuat Mengangkatnya saat Tinggal di Gedung Putih
Tongkat Komando Soekarno (foto: Tribun News)

Tongkat komando milik presiden pertama Indonesia yakni Soekarno memiliki kisah misteri. Pasalnya, selain dipercaya memiliki kekuatan magis, tongkat komando Sang Proklamator itu juga pernah menuai kejadian tak masuk akal.

Seperti kisah pengawal Presiden AS, Eisenhower yang tidak kuat mengangkat tongkat komando Bung Karno yang tertinggal di salah satu ruangan di Gedung Putih.

Baca Juga: Cerita Mistis Seorang Wanita Sedang Nyayikan Lagu Cinta dalam Hati, Mengaku Dengar Bisikan Gaib Menyuruh Diam

Mengutip Buku karya Eddi Elison: Ketawa Bareng Bung Besar yang dimuat di Majalah Intisari No.635 Agustus 2015, menyoal tongkat komando tersebut,

Bung Karno pernah membeberkan fakta dibalik benda yang sekarang dianggap keramat tersebut.

Terlebih ada fakta mencengangkan lantaran Soekarno saat membawa tongkat tersebut selalu selamat dari tujuh kali upaya pembunuhan.

Bukan hanya masyarakat sipil biasa saja yang penasaran dengan tongkat komando Soekarno. Menteri Transmigrasi dan Koperasi Orde Lama, Achadi nyatanya juga ingin tahu mengenai kebenaran tongkat komando itu.

Suatu hari saat Achadi semobil dengan Soekarno ia memperhatikan lekat-lekat tongkat komando si Bung Besar.

Melihat wajah penasaran Achadi, Soekarno langsung berkata "Di, ini tongkat biasa saja, tidak ada apa-apanya. Presiden Filipina Quirino menghadiahkannya kepadaku, saat kunjungan ke Filipina beberapa tahun lalu."

Baca Juga: Pengalaman Mistis Pramugari Lihat Sketsa Wanita Misterius yang Ternyata Korban Perkosaan

"Aku senang keindahan dan bentuk serta ukirannya," jelas Soekarno.

Tak puas dengan jawaban Bung Karno, Achadi bilang jika banyak orang beranggapan tongkat komando tersebut sakti.

"Tapi banyak yang beranggapan tongkat ini punya khasiat. Pemiliknya pasti berwibawa," timpal Achadi.

Soekarno berkata jika itu tak benar.

"Ah, itu bohong. Nggak benar itu. Kalau tidak percaya, boleh kamu pinjam pada waktu inspeksi transmigran..." kata Soekarno.

"Tidak, Pak. Tidak perlu" sahut Achadi.

Mendengar jawaban menterinya itu Soekarno melontarkan banyolan.

"Kamu takut ya Di,.. Memang tidak pantas kamu pakai tongkat komando, karena tubuhmu kecil begini... Kan bisa seperti pelawak," celoteh Soekarno sambil tertawa.

Saat masa pembuangan di Ende, NTT, di tahun 1934 – 1938, Bung Karno mengkaji Islam dengan sangat dalam.

Ia pertama kali belajar melalui berbagai literatur Islam dan surat menyurat dengan A Hassan, tokoh organisasi Persatuan Islam (Persis) Bandung dari 1 Desember 1934 hingga 17 Oktober 1936.

"Saking mendalamnya pemahaman Bung Karno tentang Islam, saya pribadi tidak ragu berandai-andai, “Jika Bung Karno ditakdirkan sebagai ulama, niscaya akan lahir aliran atah mahzab Sukarno, atau mungkin " Sukarnoiyah," kata Roso Daras, penulis buku Sukarno, Serpihan Sejarah yang Tercecer."

Menurutnya, "Dari sisi paranormal, lebih gemar menyorot kemampuan spiritual Bung Karno, dikaitkan dengan fenomena-fenomena menakjubkan yang melekat pada dirinya. Topik yang tak habis dikupas misalnya seputar tongkat komando Bung Karno, cincin, hingga kopiahnya. "

Benda-benda yang melekat pada sosok Sukarno kadang dilihat dari sisi spiritualitas klenik. Bergulir kisah pengawal Presiden AS, Eisenhower yang tidak kuat mengangkat tongkat komando Bung Karno, yang tertinggal di salah satu ruangan di Gedung Putih.

Ada pula kisah kopiah Bung Karno yang memancarkan aura wibawa laksana mahkota raja.

"Juga cerita seputar cincin Bung Karno yang memiliki kekuatan tertentu, salah satunya adalah kekuatan untuk “dicintai” (atau digilai?) wanita," katanya.

Baca Juga: Kisah Mistis Pramugari Vidi saat Nginap di Kamar Hotel, Dengar Suara Anjing Merintih

Bahkan, ada yang menyoal jimat tertentu yang selalu dibawa Bung Karno. Dan jimat itu yang menyelamatkannya dari tujuh kali usaha pembunuhan oleh lawan-lawan politiknya.

Klarifikasi Bung Karno tentang kekuatan-kekuatan magis yang melekat pada dirinya, sesungguhnya cukup jelas. Soal luput dari pembunuhan, misalnya, dia menukas,

“Kapan manusia mati, itu Tuhan yang menentukan. Jika saya tidak ditakdirkan mati ditembak, maka saya tidak akan mati karenanya. Dan itu (usaha pembunuhan) tidak membuat saya takut,” ujar Bung Karno.


Share :