Kesenian Rinding Gumbeng, Simbol Rasa Syukur Warga Gunungkidul Yogyakarta

Kesenian Rinding Gumbeng, Simbol Rasa Syukur Warga Gunungkidul Yogyakarta

Ahmad
2020-06-16 18:49:18
Kesenian Rinding Gumbeng, Simbol Rasa Syukur Warga Gunungkidul Yogyakarta
Melalui Rinding Gumbeng, diyakini bahwa Dewi Sri akan terhibur dan bahagia, sehingga kelak akan memberi mereka hasil panen yang lebih melimpah. Dan ketika itu, masyarakat membawa hasil panen pilihan mereka untuk dipersembahkan kepadanya. Foto: Istimewa

Rinding Gumbeng adalah kesenian yang dimaikan setelah kegiatan panen. Masyarakat Jawa kuno percaya, melalui ritual yang dilakukan bersama kesenian itu akan menggambarkan koneksi antara manusia dengan kekuatan yang berkuasa atas pemberian rezeki tersebut.

Para pemain Rinding Gumbeng memakai kostum sederhana, seperti mengenakan baju dan celana warna hitam dengan ikat kepala dari kain batik. Sedangkan, penyekarnya mengenakan baju kebaya khas petani desa dengan kain luriknya.

Baca Juga: Menikmati Dieng, Negeri Atas Awan di Wonosobo

Melalui Rinding Gumbeng, diyakini bahwa Dewi Sri akan terhibur dan bahagia, sehingga kelak akan memberi mereka hasil panen yang lebih melimpah. Dan ketika itu, masyarakat membawa hasil panen pilihan mereka untuk dipersembahkan kepadanya.

Dewi Sri adalah sosok yang tergambar sebagai penjaga padi. Melalui Rinding Gumbeng, diyakini bahwa Dewi Sri akan terhibur dan bahagia, sehingga kelak akan memberi mereka hasil panen yang lebih melimpah. Ketika itu, masyarakat membawa hasil panen pilihan untuk dipersembahkan kepadanya.

Alunan melodius nan kebatinan dari alat yang berasal dari bambu tersebut mengiringi hasil panen yang diarak hingga sampai ke lumbung. Kemeriahan suasana penuh khidmat dan gembira atas rezeki panen yang banyak juga menjadi ritual didalamnya.

Seni musik tradisional inipun oleh warga Gunungkidul dijadikan sebagai tradisi ritual setelah panen.

Kini Rinding Gumbeng tidak hanya menjadi alat pengiring tradisi setelah panen, namun menjadi kolaborasi campursari dan musik-musik tradisional lainnya.

Tidak ada literatur yang menyebutkan kapan alat musik ini mulai dibuat masyarakat Gunungkidul. Sampai saat ini, hanya sebatas sejarah lisan yang diturunkan dari nenek moyang hingga sekarang.

Rinding adalah alat musik yang terbuat dari bambu dengan panjang 25 cm dan tebal 2 mm. Di tengah belahan bambu diberi lubang, dan dibuat seperti jarum dengan panjang 20 an cm. Ujungnya diberikan tali untuk menarik disisi lainnya sebagai pegangan. 

Baca Juga: Gunung Halau Halau, Gunung Tertinggi di Kalsel Terdapat Sebuah Pohon Unik Dipercaya Tempat Tinggal Makhluk Astral

Cara memainkan pun cukup unik, rinding diletakkan di bibir dan mulut agak merenggang, suara dari dalam leher dikeluarkan. 

Jarum yang ada ditengah rinding akan bergetar, dan muncul bunyi.

Sementara, gumbeng sebagai alat pengiring terbuat dari bambu yang beberapa bagian diberi lubang. Membuatnya harus menggunakan bambu khusus, dari begung dan pelepah aren


Share :

HEADLINE  

Clara Shinta Bongkar Dugaan Perselingkuhan Suami, VCS dengan Selebgram

 by Frida Tiara Sukmana

March 30, 2026 14:00:00


Richard Lee Ditahan Lebih Lama, Polisi Perpanjang Masa Tahanan 40 Hari

 by Frida Tiara Sukmana

March 28, 2026 15:00:00


Iko Uwais Ungkap Perbedaan Adegan Laga Film Indonesia dan Hollywood

 by Frida Tiara Sukmana

March 26, 2026 15:00:00


Konflik Tasyi-Tasya Memanas Lagi, Ibu Ungkap Dibentak soal Foto Lebaran

 by Frida Tiara Sukmana

March 24, 2026 11:00:00


Review Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa, Horor Klasik yang Makin Matang

 by Frida Tiara Sukmana

March 23, 2026 11:00:00


Irma Novita Jadi ‘Mak’ di Na Willa, Refleksi Pola Asuh Otoriter

 by Frida Tiara Sukmana

March 21, 2026 17:00:00