Kabar Gembira Harga BBM Mulai Turun

Kabar Gembira Harga BBM Mulai Turun

Yuli Nopiyanti
2020-05-13 12:54:45
Kabar Gembira Harga BBM Mulai Turun
Ilustrasi pertamina (Foto:Dok.Istimewa)

Masih terus pro dan kontra soal harga Bahan Bakar Minyak (BBM) masih terus terjadi. Ada yang menilai semestinya harga jual BBM dalam negeri diturunkan seiring anjloknya harga minyak dunia.

Namun tak hanya itu saja paslanya pada Selasa 12 Mei 2020 pukul 11:42 WIB, harga minyak jenis brent memang naik 0,24%. Sementara yang jenis light sweet juga terangkat 0,95%.

Bahkan tak hanya itu saja pasalnya kalau dihitung sejak awal tahun, keduanya mengalami koreksi dalam. Brent anjlok 54,98% sedangkan light sweet ambles 60,17%.

Apalagi pada April harga si emas hitam sempat jauh sejatuh-jatuhnya. Harga light sweet bahkan sempat minus, artinya siapa yang mau beli minyak malah diberi uang. Harga brent pun jeblok hingga ke bawah US$ 20/barel.

Tak hanya itu saja bahkan, harga jual BBM dari PT Pertamina (Persero) belum disesuaikan. Saat ini, harga jual BBM di DKI Jakarta untuk jenis Pertalite adalah Rp 7.650/liter, Pertamax Rp 9.000/liter, Pertamax Turbo 9.850/liter, Pertamax Racing Rp 42.000/liter, Dexlite Rp 9.500/liter, Pertamina Dex Rp 10.200, solar non-subsidi Rp 9.400/liter, dan minyak tanah non-subsidi Rp 11.220/liter.

Sah saja jika menilai semestinya harga BBM di Indonesia turun ketika harga minyak dunia anjlok sampai minus. Namun perlu dicatat bahwa komponen pembentuk harga BBM bukan cuma harga minyak.

Selain itu, penurunan harga BBM juga tidak akan banyak membantu meredam inflasi. Harga kebutuhan pokok tentu turun, tetapi tidak bisa terlalu banyak.

Sebab biaya BBM hanya satu dari begitu banyak komponen pembentuk harga sembako. Di Indonesia, harga kebutuhan pokok lebih ditentukan oleh seberapa panjang rantai yang harus dilalui dari produsen ke konsumen. Semakin panjang rantainya, maka harga yang harus dibayar oleh konsumen jadi semakin mahal.

Bahkan penurunan harga BBM tidak akan banyak membantu selama rantai perdagangan sembako masih belum efisien. Jika rantai perdagangan masih panjang, konsumen sulit mendapatkan harga yang kompetitif.


Share :