Dilema Pekerja Seks hingga Munculnya Islampobia di India Akibat Corona

Dilema Pekerja Seks hingga Munculnya Islampobia di India Akibat Corona

Ahmad
2020-04-14 15:24:56
Dilema Pekerja Seks hingga Munculnya Islampobia di India Akibat Corona
Foto: Afp

Virus corona membuat semua negara di dunia kebingungan untuk menangkalnya. Berbagai cara mulai dari Lockdown sampai Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilakukan oleh berbagai negara untuk menangkal virus yang berasal dari Wuhan, China ini.


Republik India adalah sebuah negara di Asia dengan jumlah penduduk terbanyak kedua di dunia, yaitu 1,353 miliar, rupanya juga kelabakan menghadapi virus yang telah ditetapkan pandemi oleh WHO ini.


Lockdown, atau penguncian nasional yang diterapkan oleh India untuk menahan virus corona agar tidak menyebar, mendatangkan berbagai prahara dalam kehidupan warganya.


Salah satunya adalah Neha. Neha (bukan nama sebenarnya), seorang pekerja seks berusia 23 tahun, bekerja di Delhi sementara keluarganya tinggal di negara bagian Haryana, di utara India. 


Neha menjadi satu-satunya pencari nafkah dalam keluarga, membiayai pendidikan adik laki-laki dan perempuan, serta tagihan medis untuk ibunya yang sakit. Akibat lockdown dia tidak dapat menjajakan 'kenikmatan' kepada para pelanggannya juga mengalami kebingungan, terutama masalah ekonomi.


"Jika keadaannya terus begini, hanya ada satu pilihan yang tersisa untuk saya: bunuh diri," kata Neha, dilansir dari DW dalam wawancara telepon, Selasa 14 April 2020.


Selain Neha, Ribuan pekerja seks di seluruh India menghadapi masalah serupa. Menurut organisasi setempat, hampir 5.000 perempuan bekerja sebagai pelacur di daerah Delhi. Mereka pun dilarang mencari nafkah selama masa penguncian ini.


Untuk itu, organisasi nonpemerintah berusaha mengumpulkan dana. Dalam sebuah surat kepada pemerintah, Komisi Perempuan Delhi mendesak pihak berwenang untuk membantu para pekerja seks.


"Kami mengumpulkan dana untuk para pekerja seks. Banyak orang tergerak untuk membantu kami. Kami telah membantu sekitar 800 pekerja seks sampai saat ini, tetapi itu hanya akan cukup untuk beberapa hari," ujar Anurag Garg dari organisasi nirlaba Kat Katha.


Sekedar Informasi, di India, pekerja seks menghadapi diskriminasi dan pekerjaan mereka tidak diakui sebagai pekerjaan legal. Bahkan setelah masa lockdown berakhir, jarak sosial akan berdampak negatif pada mata pencaharian mereka.


Kasus Neha dan ribuan pekerja seks ini merupakan satu dari banyak kasus kegundahan warga India akibat corona di sektor ekonomi.


Selain faktor ekonomi yang dirasakan oleh warga India, ternyata muncul fenomena unik yang diakibatkan corona di negara itu, yaitu munculnya gelombang Islamofobia.


Negara bagian Himachal Pradesh melaporkan kasus penularan pertama akhir Maret silam. berawal dari seorang penduduk bernama Dilshad Muhamud yang memilih bunuh diri beberapa jam setelah hasil tesnya menunjukan negatif corona.


Dilansir dari harian The Hindu, Selasa 14 April 2020, terjadi perundungan yang dilakukan oleh warga desa terhadap sebuah kelompok yang beragama Islam.


Warga desa tersebut, mencurigai Dilshad yang merupakan seorang muslim telah mengidap virus corona setelah  bertemu dua da'i dari Jemaah Tabligh. Kelompok itu belakangan diketahui menjadi salah satu kantung penyebaran virus corona di India.


Tidak sampai satu, di India rupanya saat ini juga menciptakan gelombang Islamofobia, usai anggota Jemaah Tabligh menolak menaati aturan pembatasan sosial dan sebabnya mencatat banyak kasus penularan di antara anggotanya.


Jemaah Tabligh merupakan kelompok Islam puritan yang lahir di India dan menyebar luas ke berbagai negara, termasuk di Indonesia. Di Pakistan, sebanyak 20.000 anggota Jemaah Tabligh dikarantina paksa. Lebih dari 600 anggota dinyatakan positif mengidap corona.


Perundungan tersebut juga terjadi di media sosial. Tagar seperti #CoronaJIhad, #BioJihad atau #MuslimMeaningTerrorist digunakan untuk menyebar teori konspirasi bahwa kaum muslim berusaha menggunakan virus corona sebagai senjata untuk melawan India.


Ungkapan bernada kebencian yang bertebaran di Facebook atau Twitter itu dikabarkan ikut disebar oleh simpatisan Perdana Menteri Narendra Modi dan pejabat teras Bharatiya Janata Party. Menurut data yang dihimpun Equality Labs di AS, tagar #CoronaJihad sudah muncul sebanyak 300.000 kali dan disimak oleh lebih dari 165 juta orang di Twitter sejak 28 Maret, tulis CNN dalam laporannya.


Bahkan, sejumlah kaum muda muslim diserang dan diintimidasi saat mencoba membagikan makanan kepada warga miskin.  


Share :

HEADLINE  

Klarifikasi Ariel Noah Usai Sindiran Ahmad Dhani

 by Ramadhan Subekti

April 03, 2025 17:00:00


Ini Deretan Pengusaha Sukses Suka Bangun Masjid

 by Ramadhan Subekti

April 01, 2025 13:00:00


Prabowo, Titiek dan Didit : Maaf Lahir dan Batin

 by Ramadhan Subekti

March 31, 2025 10:00:00


Prabowo dan Gibran Akan Salat ID di Masjid Istiqlal

 by Ramadhan Subekti

March 31, 2025 01:00:00