Ini Krinologi Jatuhnya Satelit Nusantara Dua

Ini Krinologi Jatuhnya Satelit Nusantara Dua

Dedi Sutiadi
2020-04-11 22:00:00
Ini Krinologi Jatuhnya Satelit Nusantara Dua
Satelit Nusantara Satu yang meluncur di Cape Canevaral, Florida, AS, Jumat, 22 Februari 2019. (Foto: Istimewa)

Satelit Palapa N-1 atau disebut pula Nusantara Dua, gagal mengangkasa saat diluncurkan dari Xichang Satellite Launch Center (XLSC) di Xichang, Provinsi Sichuan, China, Kamis 9 April 2020. Peluncuran dilakukan pada pukul 19.46 WIB menggunakan roket Long March-3B (Chang Zheng-3B).


Pada mulanya, peluncuran roket berjalan dengan baik di tahap pertama dan kedua. Kendala baru muncul beberapa menit saat memasuki tahap tiga. Satelit mengalami kerusakan lalu terjatuh ke lautan.

"Dalam hal ini ketinggian satelit tersebut hanya sekitar 170 km, dengan kecepatan 7.100 meter per detik," jelas Adi Rahman Adiwoso, Direktur Utama PSN dalam konferensi pers bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jumat 10 April 2020.


"Kemudian satelit jatuh ke lautan dan tidak bisa diselamatkan," lanjut Adi.


Sebelumnya, Presiden Direktur PT Palapa Satelit Nusa Sejahtera (PSNS), Johanes Indri Trijatmodjo mengatakan satelit Nusantara Dua dilindungi asuransi yang sepenuhnya memberikan perlindungan atas risiko peluncuran dan operasional satelit. Satelit Nusantara Dua sendiri dibuat oleh China Great Wall Industry Corporation.


Satelit ini memiliki bobot 5.550 kilogram dengan transponder FSS C-band 20×36 MHz, dan High Throughput Satellite (HTS) 9,5 Gbps. Menteri Kominfo, Johnny G Plate mengatakan, satelit Palapa-D yang kini digunakan 23 lembaga penyiaran dan delapan lembaga radio di Indonesia itu akan berhenti mengorbit selambat-lambatnya akhir Juli 2020.


Sebagai salah satu alternatif, Kominfo telah berdiskusi dengan Menteri BUMN untuk menggunakan satelit yang tersedia saat ini dalam jangka waktu pendek, agar layanan penyiaran dan telekomunikasi tetap terjaga.


Sedangkan Dirjen SDPPI Kominfo Ismail mengatakan, pemerintah akan berkoordinasi dengan Indosat Ooredoo dan PSN untuk kemudian mengirimkan surat ke International Telecommunication Union/ITU, selaku regulator satelit.


"Dalam kondisi yang demikian, secara normalnya kita akan mendapatkan perpanjangan waktu untuk menyiapkan satelit pengganti baru, agar seluruh frekuensi di dalam slot orbit tersebut tetap menjadi milik Indonesia," jelas


BUMN yang mengoperasikan satelit sendiri saat ini ada dua, yakni Telkom dan BRI. Telkom memiliki dua satelit, yaitu Telkom 3S dan satelit Merah Putih. Sementara BRI memiliki satu satelit yaitu BRISAT.


Share :