JAKARTA – Dibukanya kembali Bandara Soekarno-Hatta tidak membuat pesawat yang sempat tertahan langsung diterbangkan. Pemeriksaan keselamatan menjadi tahapan penting sebelum armada kembali menjalani jadwal penerbangan.
Sedikitnya 178 pesawat dilaporkan sempat tertahan di Jakarta selama penutupan bandara akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Pemeriksaan diperlukan karena abu vulkanik memiliki karakteristik berbeda dari debu biasa. Partikelnya dapat menimbulkan risiko terhadap komponen pesawat, terutama jika masuk ke mesin.
Oleh karena itu, operator penerbangan harus memastikan kondisi armada memenuhi standar keselamatan sebelum kembali digunakan untuk mengangkut penumpang.
Tahapan operasional pemulihan juga dilakukan secara bertahap. Selain memastikan pesawat dalam kondisi aman, maskapai penerbangan menghadapi pekerjaan besar untuk mengatur kembali rotasi armada yang berubah selama penutupan.
Jadwal awak kabin dan pilot juga harus disesuaikan. Pada saat yang sama, maskapai perlu menangani penumpang yang penerbangannya dibatalkan atau mengalami penundaan.
Gangguan akibat Anak Krakatau tercatat mempengaruhi hampir 3.000 penerbangan. Besarnya jumlah tersebut membuat proses normalisasi membutuhkan waktu meskipun ruang udara telah kembali dinyatakan aman.
Otoritas penerbangan tetap memantau perkembangan Gunung Anak Krakatau. Jika aktivitas vulkanik kembali menghasilkan abu dalam jumlah besar dan bergerak menuju jalur penerbangan, evaluasi keselamatan dapat kembali dilakukan.
Keselamatan penumpang tetap menjadi prioritas dalam seluruh proses pemulihan penerbangan.






