Karhutla Meluas di Kalimantan, Asap Tebal Mulai Ganggu Aktivitas Penerbangan

Karhutla Meluas di Kalimantan, Asap Tebal Mulai Ganggu Aktivitas Penerbangan

MALDI
2026-08-20 17:30:00
Karhutla Meluas di Kalimantan, Asap Tebal Mulai Ganggu Aktivitas Penerbangan
Sumber Foto : Istimewa

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan semakin berdampak pada aktivitas masyarakat.


Asap tebal yang menyelimuti sejumlah daerah membuat jarak pandang menurun hingga mengganggu operasional penerbangan.


Di Kalimantan Tengah, kondisi tersebut terlihat dari memburuknya kualitas udara. Palangka Raya sempat mencatat indeks kualitas udara mencapai 487 pada Rabu (19/8/2026), yang masuk kategori berbahaya. Jarak pandang di beberapa wilayah juga dilaporkan hanya sekitar 1,4 kilometer.


Jumlah titik panas yang terpantau pun masih tinggi. Di Kalimantan Tengah, tercatat 1.795 titik panas, dengan 281 di antaranya berada di wilayah Kota Palangka Raya. Dampak asap bahkan mulai dirasakan di sektor pendidikan dan aktivitas masyarakat sehari-hari.


Kondisi serupa turut memengaruhi sektor penerbangan, terutama di Kalimantan Barat. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan, sejumlah penerbangan terpaksa dibatalkan karena jarak pandang akibat asap tidak memenuhi batas aman penerbangan.


''Untuk Kalimantan memang tadi seperti di Kalimantan Barat, ada pembatalan penerbangan karena asap di sana sudah cukup mengganggu jarak pandang,” ujar Dudy di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (20/8/2026).


Salah satu bandara yang terus menjadi perhatian adalah Bandara Supadio di Kalimantan Barat. Kondisi cuaca dan jarak pandang di sekitar bandara masih dipantau untuk memastikan penerbangan tetap memenuhi standar keselamatan.


Kementrian Perhubungan belum merinci jumlah penerbangan yang terdampak. Pemerintah masih melakukan pemantauan terhadap perkembangan jarak pandang di sejumlah wilayah sebelum mengambil langkah operasional lebih lanjut.


Dudy juga meminta maskapai meningkatkan kewaspadaan selama kondisi kabut asap berlangsung. Informasi cuaca dan jarak pandang dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) diminta menjadi pertimbangan utama dalam menentukan kelayakan penerbangan.


''Kita mengingatkan kepada seluruh airlines untuk berhati-hati, selalu memonitor informasi dari BMKG terkait dengan cuaca,” kata Dudy.


Karhutla yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan kini tidak hanya berdampak pada kualitas udara, tetapi juga mulai mengganggu berbagai aktivitas masyarakat, termasuk penerbangan.


Pemerintah pun terus memantau kondisi di lapangan dengan mengutamakan faktor keselamatan dalam setiap keputusan operasional.


Share :