JAKARTA - Festival ART RAGA menjadi salah satu acara seni yang menarik perhatian publik karena menghadirkan konsep berbeda dari pameran seni pada umumnya. Digelar di ruang pilates dan olahraga kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, festival ini mencoba menggabungkan seni, aktivitas tubuh, hingga ruang refleksi dalam satu pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Mengusung tema “Body, Mind, Soul”, ART RAGA menghadirkan suasana intim yang membuat pengunjung bisa menikmati karya seni tanpa kesan formal seperti di galeri konvensional. Pendiri Connected Art Platform, Mona Liem, mengatakan bahwa festival ini sengaja dibuat agar masyarakat dapat mengenal seni dengan cara yang lebih santai dan menyenangkan. “Kalau orang datang ke art fair lihat karya seni terkesannya mahal. Nah, ini ada festival yang sambil pilates terus lihat karya seni,” ujarnya.
Lebih dari 20 seniman turut meramaikan festival ini dengan puluhan karya yang tersebar di berbagai sudut ruangan. Pengunjung dapat melihat karya berwarna khas Yessiow di area utama, hingga instalasi mini dan karya eksperimental dari sejumlah seniman lainnya di lantai atas. Setiap ruang dibuat menyatu dengan suasana tempat olahraga sehingga menciptakan pengalaman visual yang unik.
Tidak hanya menampilkan karya seni visual, ART RAGA juga menghadirkan ruang interaktif berbasis teknologi dan pengalaman emosional. Salah satunya adalah Wangsit AI yang menawarkan tarot berbasis kecerdasan buatan, serta Seduh Keluh yang menjadi ruang berbagi cerita secara hangat dan personal. Ada pula ruang imersif dari NotanLab yang dirancang untuk membantu pengunjung merasa lebih tenang dan reflektif.
Festival ini menunjukkan bahwa seni kini dapat hadir di mana saja, termasuk di ruang publik yang dekat dengan aktivitas sehari-hari masyarakat. Dengan konsep yang lebih santai dan inklusif, ART RAGA menjadi bukti bahwa seni tidak harus selalu terasa eksklusif, tetapi bisa menjadi bagian dari gaya hidup modern yang menyenangkan dan penuh makna.






