Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia dan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan serius. Penyakit ini pertama kali teridentifikasi di Asia dan dikenal memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi, sehingga memerlukan perhatian khusus dari otoritas kesehatan dan masyarakat.
Pakar menjelaskan bahwa kelelawar pemakan buah menjadi reservoir alami Virus Nipah. Penularan dapat terjadi ketika manusia terpapar cairan tubuh kelelawar, baik secara langsung maupun melalui perantara, seperti buah yang telah terkontaminasi air liur atau urine hewan tersebut. Kondisi ini kerap terjadi di wilayah dengan interaksi tinggi antara manusia dan satwa liar.
Selain penularan dari hewan ke manusia, Virus Nipah juga dapat menyebar melalui kontak antarmanusia. Penularan ini umumnya terjadi melalui cairan tubuh, seperti droplet pernapasan, terutama saat seseorang melakukan kontak dekat dengan pasien yang terinfeksi. Risiko penularan meningkat apabila protokol kesehatan tidak diterapkan secara ketat.
Lingkungan dan aktivitas manusia turut berperan dalam memperbesar risiko penyebaran Virus Nipah. Perubahan tata guna lahan, pembukaan hutan, serta praktik pertanian dan peternakan yang tidak higienis dapat meningkatkan peluang kontak antara manusia dan hewan pembawa virus.
Untuk mencegah penyebaran Virus Nipah, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kebersihan lingkungan, menghindari konsumsi buah yang tidak higienis, serta membatasi kontak langsung dengan hewan liar. Deteksi dini dan edukasi kesehatan menjadi langkah penting guna menekan risiko penularan dan dampak yang ditimbulkan oleh virus ini.






