Sosok biksu yang diikuti jutaan orang di media sosial terungkap sebagai karakter AI ciptaan pria asal Israel.

Sosok biksu yang diikuti jutaan orang di media sosial terungkap sebagai karakter AI ciptaan pria asal Israel.

Yogi Maulana
2026-01-24 15:33:16
Sosok biksu yang diikuti jutaan orang di media sosial terungkap sebagai karakter AI ciptaan pria asal Israel.
sus ini kembali membuka diskusi tentang batas etika penggunaan AI di media sosial

Sebuah akun yang menampilkan sosok biksu dengan pesan-pesan spiritual menenangkan mendadak menjadi sorotan setelah terungkap bahwa figur tersebut bukan manusia nyata, melainkan karakter kecerdasan buatan. Selama berbulan-bulan, akun ini berhasil mengumpulkan jutaan pengikut yang mengira konten tersebut dibuat oleh seorang tokoh spiritual sungguhan.



Biksu virtual itu dikenal melalui unggahan video berisi nasihat kehidupan, refleksi batin, dan kutipan tentang kedamaian serta kesadaran diri. Dengan visual yang tampak realistis dan suara yang meyakinkan, banyak pengguna media sosial merasa terhubung secara emosional dan menjadikan konten tersebut sebagai sumber inspirasi harian.



Fakta mengejutkan muncul ketika diketahui bahwa sosok biksu tersebut diciptakan menggunakan teknologi AI oleh seorang pria asal Israel. Karakter itu sepenuhnya dihasilkan melalui kombinasi pemodelan visual, suara sintetis, dan naskah yang ditulis atau dibantu oleh sistem kecerdasan buatan, tanpa keterlibatan figur religius nyata.



Pengungkapan ini memicu reaksi beragam dari publik. Sebagian pengikut merasa tertipu karena tidak pernah diberi penjelasan bahwa konten tersebut bersifat virtual. Namun, ada pula yang berpendapat bahwa pesan-pesan positif yang disampaikan tetap memiliki nilai, terlepas dari siapa atau apa yang menyampaikannya.



Kasus ini kembali membuka diskusi tentang batas etika penggunaan AI di media sosial, terutama ketika teknologi digunakan untuk membangun figur otoritatif atau spiritual. Transparansi dinilai menjadi hal krusial agar pemanfaatan kecerdasan buatan tidak mengaburkan kepercayaan publik dan tidak menyesatkan audiens.


Share :