Indonesia Tidak Khawatir! 3 Gebrakan Ekonomi Presiden Prabowo Awal Tahun, Sudah 'Cover' Tarif Impor Trump

Indonesia Tidak Khawatir! 3 Gebrakan Ekonomi Presiden Prabowo Awal Tahun, Sudah 'Cover' Tarif Impor Trump

Ramadhan Subekti
2025-04-03 19:20:00
Indonesia Tidak Khawatir! 3 Gebrakan Ekonomi Presiden Prabowo Awal Tahun, Sudah 'Cover' Tarif Impor Trump
Presiden RI Prabowo Subianto (Foto: Instagram PCO RI)

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan pembaruan tarif dasar impor yang berdampak luas pada perdagangan global. Ini disampaikan Trump pada Kamis, (03/04/2025) melalui website resmi Gedung Putih. Selain menerapkan tarif dasar sebesar 10 persen terhadap hampir semua barang impor, AS juga memperkenalkan 'Tarif Timbal Balik', yang menetapkan tarif sebesar 32 persen bagi produk-produk dari sejumlah negara, termasuk Indonesia.


Jauh sebelum Kebijakan Trump, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, telah menyiapkan langkah-langkah strategis guna menjaga optimisme dan ketahanan ekonomi nasional. Menurut Deputi Bidang Diseminasi dan Media Informasi Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), Noudhy Valdryno, Presiden Prabowo telah merancang kebijakan-kebijakan ini sejak awal masa pemerintahannya.


“Dalam menghadapi tantangan global, termasuk kebijakan tarif baru Amerika Serikat, Presiden Prabowo menunjukkan ketajaman melihat dinamika geopolitik. Pemahaman mendalam tentang hubungan internasional dan perdagangan global menjadi kekuatan utama dalam menjaga stabilitas ekonomi Indonesia,” ungkap Noudhy.


1. Memperluas Mitra Dagang Indonesia

Salah satu langkah strategis yang diambil Presiden Prabowo adalah memperluas jaringan mitra dagang Indonesia. Pada minggu pertama setelah dilantik, Presiden Prabowo mengajukan keanggotaan Indonesia dalam BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan), kelompok ekonomi yang mencakup 40 persen perdagangan global. Langkah ini bertujuan memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan internasional.

Keanggotaan di BRICS semakin memperkuat berbagai perjanjian dagang multilateral yang telah dijalin Indonesia, seperti Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang mencakup 27 persen perdagangan global, serta aksesi ke Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) yang meliputi 64 persen perdagangan global. Selain itu, Indonesia juga menjalin kerja sama dalam perjanjian dagang lainnya, seperti CP-TPP, IEU-CEPA, dan I-EAEU CEPA.

Di tingkat bilateral, Indonesia telah mempererat hubungan dagang dengan berbagai negara, termasuk Korea Selatan, Jepang, Australia, Pakistan, Uni Emirat Arab, Iran, dan Chile. Hal ini semakin memperkokoh daya saing Indonesia di pasar internasional.


2. Mempercepat Hilirisasi Sumber Daya Alam (SDA)

Presiden Prabowo juga memprioritaskan kebijakan hilirisasi industri untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia. Salah satu contohnya adalah sektor nikel, di mana nilai ekspor nikel dan turunannya meningkat drastis dari USD 3,7 miliar pada 2014 menjadi USD 34,3 miliar pada 2022.

Untuk mendukung percepatan hilirisasi SDA strategis, pada 24 Februari 2025, Presiden Prabowo meluncurkan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Lembaga ini bertujuan mendanai dan mengelola proyek hilirisasi di berbagai sektor utama, termasuk mineral, batu bara, minyak bumi, gas bumi, perkebunan, kelautan, perikanan, dan kehutanan. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing ekspor, mengurangi ketergantungan pada investasi asing, menciptakan lapangan kerja baru, serta mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis SDA yang berkelanjutan.


3. Memperkuat Resiliensi Konsumsi Dalam Negeri

Gebrakan ketiga yang dilakukan Presiden Prabowo adalah memperkuat daya beli masyarakat melalui program-program kesejahteraan rakyat. Salah satu program unggulan adalah Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menargetkan 82 juta penerima manfaat pada akhir 2025.

Selain itu, pemerintah juga berencana mendirikan 80.000 Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) untuk memperkuat ekonomi desa, menciptakan lapangan pekerjaan, serta mendorong perputaran uang di daerah. Upaya ini tidak hanya meningkatkan konsumsi dalam negeri, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada impor dan memperkuat perekonomian domestik.

Dengan mendongkrak konsumsi rumah tangga yang menyumbang 54 persen dari PDB Indonesia, kebijakan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

“Dengan memperkuat hubungan dagang internasional, mengoptimalkan potensi sumber daya alam, dan meningkatkan konsumsi dalam negeri, Presiden Prabowo membuktikan bahwa Indonesia dapat tetap tumbuh meskipun di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian,” kata Noudhy.


Dengan tiga gebrakan strategis ini, Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo diharapkan tetap berada di jalur yang tepat untuk menjaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan rakyat di tengah perubahan kebijakan global yang dinamis.


Share :