Masjid Jami Al Anwar atau yang lebih dikenal sebagai Masjid
Angke adalah salah satu Masjid tertua di Jakarta. Masjid ini berlokasi di dalam
gang sempit yang hanya bisa di lalui sepeda motor, tepatnya di Jl. Pangeran
Tubagus Angke, Kelurahan Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.
Diperkirakan masjid ini telah berdiri sejak tahun 1761 sehingga berusia sekitar 250 tahun, pada masa kepemimpinan Pangeran Tubagus Angke atau Pangeran Jayakarta II. Meski terbilang tua, masjid ini menyimpan banyak sejarah serta memiliki bangunan yang klasik yang menarik minat banyak wisatawan.
Simbol Keragaman Budaya
Bangunan Masjid Angke diketahui memiliki gaya tradisional
dari berbagai budaya. Ada kultur Jawa, Bali, Arab, Tionghoa, bahkan Eropa.
Selain bangunannya yang unik, masjid ini juga menjadi saksi sejarah perjuangan
masyarakat di era kolonialisme.
"Masjid Angke ini selain jadi masjid tertua di Jakarta,
juga merupakan tempat orang-orang berkumpul untuk membahas strategi perang
melawan Belanda. Walaupun kawasan ini sebenarnya tidak jauh dari kawasan
pemerintahan kolonial saat itu, yang ada di daerah Jakarta Kota saat ini,"
kata perwakilan Himpunan Pramuwisata Indonesia Jakarta, Dwinda Nafisah
Selain itu, menurut Ketua Bidang Sejarah dan Bangunan Masjid
Angke, Abyan Abdillah, masjid ini sering menjadi tempat berkumpulnya masyarakat
dari berbagai daerah.
"Para sejarawan dan arkeolog juga, saat restorasi
(masjid) kan ngumpul di sini. Memang di sini sentral dari perkembangan Islam
dari Kerajaan Demak Cirebon tadi. Makanya jangan heran nisan makam di sini
tidak ada yang sama, itu menandakan tidak dari satu daerah tidak dari satu
tempat, jadi perpaduan NKRI-nya kelihatan sekali," kata dia.
Wujud Toleransi Umat Beragama
Berada di kawasan pecinan, Masjid Angke juga menjadi wujud
toleransi dari umat beragama. Menurut sejarah, saat terjadi tragedy pecinan di
tahun 1740, tempat ini merupakan rumah yang aman bagi masyarakat etnis Tionghoa.
Ternyata, dibalik itu semua pendirian Masjid Angke memang
diinisiasi oleh seorang wanita muslim asal Tionghoa yang bernama Tan Nio. Beliau
adalah seorang bangsawan daro Banten yang menggunakan hartanya untuk membangun masjid.
Dalam merancang masjid ini, ia dibantu oleh Syaikh Liong Tan, seorang muslim
asal Tionghoa yang makamnya berada di sebelah barat masjid tersebut.
Terdapat Makam Tokoh Pejuang
Di sekitaran Masjid, terdapat sejumlah makam para tokoh pejuang Indonesia. Salah satunya adalah makam Pangeran Syarif Hamid Alkadrie dari Kesultanan Pontianak. Pada makam tertulis bahwa Pangeran Hamid meninggal dunia di tahun 1854.
Karena memiliki nilai sejarah yang tinggi, berdasarkan
Keputusan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta) Nomor
1371 Tahun 2019, Masjid Angke atau Masjid Jami Al-Anwar ditetapkan sebagai
bangunan cagar budaya.