Awal Mula Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Dosen IAIN Kediri ke Mahasiswi saat Bimbingan Skripsi

Awal Mula Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Dosen IAIN Kediri ke Mahasiswi saat Bimbingan Skripsi

Foto
IAIN Kediri (foto: satukanal.com)

Seorang oknum dosen di IAIN Kediri yang menjabat sebagai Kaprodi IAT berinisial MAM diduga telah melakukan pelecehan seksual terhadap sejumlah mahasiswa. Kabar ini pun dibenarkan Rektor IAIN Kediri, Dr. H Nur Chamid MM.

Awal mula pelecehan seksual

Menurut pengakuan akun Twitter @KBPenyintas, kelakukan biadap dosen itu sudah terjadi sejak lama. Tepatnya salah satu korban pada saat itu  memasuki semester lima. Saat itu, dosen predator itu seringkali mengirimkan chat tak senonoh kepada korban seperti ingin bercinta.

"Dosen itu seringkali mengirimkan chat tak senonoh kepadanya. Seperti 'Mau bercinta?', 'andai saya belum punya istri, saya mau nikahin kamu'. Pesan-pesan yang sangat tidak pantas dari seorang dosen bergelar doktor," tulis @KBPenyintas seperti dikutip Correcto.id, Rabu (15/9/2021).

Pada saat itu, korban tentu merasa risih dan tidak tahu harus berbicara atau melapor kepada siapa. Ia ingin melawan dosen itu namun takut nilainya akan bermasalah. Sehingga dirinya pun memendamnya seorang diri.

Sempat dilaporkan namun berakhir ditengah jalan

Pada suatu hari, ada kabar menyatakan jika dosen itu dilaporkan atas tuduhan pelecehan seksual. Korban pun bersyukur setidaknya ada korban lain yang berani melaporkan dosen tersebut. "Kasus diusut namun berakhir di tengah jalan karena bukti kurang kuat sehingga dosen predator ini pun terbebas dari tuduhan," langjutnya.

Seiring berjalannya waktu dan korban telah memasuki penghujung masa kuliahnya. Ia tengah bersiap untuk mulai menyusun skripsi. Namun sepertinya korban takdirnya tidak berpihak kepadanya. Pasalnya, dosen predator itu menjadi salah satu dari dua dosen pembimbingnya. 

Pada saat itu pandemi sedang melanda dan pastinya bimbingan skripsinya harus ke rumah dosen. Saat itu korban berusaha berprasangka baik bahwa dosen tersebut sudah insaf, walau di hati kecilnya masih ada rasa trauma.

"Saat itu Pandemi sudah terjadi, jadi ia tidak meragukan sama sekali permintaan dosen predator agar bimbingan dilakukan di rumah si dosen. Namun yg aneh adalah Ketika teman-temannya yang lain bisa melakukan bimbingan skripsi secara bersama-sama di rumah dosen pembimbing itu, mahasiswa ini malah disuruh datang seorang diri. Bahkan diancam jika membawa orang lain, maka sang dosen tidak akan memberi bimbingan," lanjutnya.

Pada saat itu dirinya merasa takut, namun satu sisi korban memikirkan skripsinya yang harus diselesaikan agar segera lulus. Ia pun mencoba memberanikan diri untuk mendatangi rumah dosen karena korban berpikir dosen itu tidak akan berani membuat pelecehan dekat keluarganya.

"Di hari bimbingan, ia datang seorang diri dan langsung disambut oleh sang dosen. Ia masuk ke dalam rumah dan dipersilahkan duduk di ruang tamu. Ia merasa rumah dosennya nampak sepi, namun sikap dosennya yang tampak biasa dan tidak bergelagat aneh membuatnya lebih tenang. Bimbingan pun dimulai tanpa ada masalah," lanjutnya bercerita.

Kembali melakukan aksi pelecehan seksual

Disela-sela bimbingan, dosen itu mulai berani melakukan aksinya. Dosen itu tiba-tiba memegang pipi korban sambil mengatakan "yang ini loh sayang". Korban pun langsung was-was. 

"Ia baru saja ingin berontak namun dosen itu dengan gerakan cepat menciumnya. Ia marah, langsung saja ia melompat dan berteriak 'Jancok' tanpa peduli lagi bahwa orang yang ia umpat adalah dosen pembimbingnya," katanya.

"Ia dengan sigap mengambil laptopnya di meja dan melangkah keluar. Baru beberapa langkah, dosen itu ternyata menarik roknya. Ia terjatuh bersama laptop yang ia pegang. Ia kembali bangkit dan berusaha melepaskan diri dari sang dosen. Setelah berhasil lepas, ia langsung berlari membawa laptop yang nampaknya rusak karena terjatuh," lanjutnya.

Paginya, korban  memeriksakan laptopnya dan ternyata hardisknya rusak dan semua file skripsinya tidak tertolong. Korban pun marah dan sangat frustrasi. Kemarahan yang kemudian memunculkan keberanian untuk melaporkan kelakuan dosen predator tadi kepada dosen pembimbing yang satunya

"Dosen pembimbingnya ini sangat prihatin dengan apa yang terjadi  pada mahasiswanya dan melaporkan kasus ini ke pihak kampus. Hingga kini, hampir satu bulan kasus pelecehan seksual ini bergulir di rektorat kampus, namun baru setelah berita ini di blow up baru ada keputusan yg tidak tegas² amat yg dikeluarkan oleh Rektorat IAIN Kediri," tuturnya.

Sanksi yang diberikan pihak kampus

Adapun sanksi yang diberikan pihak kampus terhadap dosen predator itu yang dikatakan @KBPenyintas yakni, pencopotan jabatan, tidak boleh naik pangkat selama 2 tahun, dan tidak boleh membimbing skripsi selama 2 semester.

Terpisah, Rektor IAIN menegaskan telah memanggil dan meminta keterangan sejumlah korban. “Sudah dipanggil semuanya untuk meminta penjelasan. Ini menunjukkan bahwa kami lembaga tidak diam,” ucap Nur Chamid.