Cerita Mistis Desa Bannada, Warganya Masih Mempertahankan Ilmu Mistis, Benarkah?

Cerita Mistis Desa Bannada, Warganya Masih Mempertahankan Ilmu Mistis, Benarkah?

Ekel Suranta Sembiring
2020-10-06 19:15:46
Cerita Mistis Desa Bannada, Warganya Masih Mempertahankan Ilmu Mistis, Benarkah?
Desa Bannada (foto: Regional Kompas)

Salah satu desa yang tak biasa berada di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, menyimpan cerita mistis. Menurut cerita dari mulut ke mulut, desa yang dimaksud bernama Desa Bannada itu sebagian warganya hingga saat  ini memegang ilmu mistis dan kebatinan.

Desa Bannada yang masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Gemeh ini, memang terhitung sulit untuk diakses. Berbagai kondisi jalan yang harus dilewati untuk sampai ke Desa Bannada dari Melonguane, ibukota Talaud.

Baca Juga: Kisah Misteri Hotel Bangkrut di Salatiga, Tempat Pembunuhan dan Dihuni 2 Sosok Gaib

Selepas dari Beo, tantangan perjalanannya harus melewati pasir pantai berkilo-kilometer, menyeberang dua sungai dengan rakit, jalanan berbatu, dan berlubang dengan variasi mendaki dan menurun, melewati semak belukar dan kebun warga. Jika hujan datang, jalanan lumpur menanti.

Banyak orang menganggap warga Bannada masih mempertahankan ilmu mistis untuk hal-hal gaib, semisal berkomunikasi dengan orang lain melalui media supranatural.

Sehingga jika ingin bertandang ke sana, pejalan selalu diperingati untuk berhati-hati. Namun saat wisatawan datang bertandang ke sana, mereka akan disambut dengan sangat ramah oleh warga Desa Bannada.

Baca Juga: Cerita Misteri Danau Muka Kuning di Batam, Danau Angker dan Sering Makan Korban

"Dalam beberapa hal, kami memang masih mempertahankan aturan adat. Di antaranya, kami sangat melarang perbuatan tercela semisal mencuri. Jika ketahuan, ada sanksi adat yang akan diterapkan," ujar Julianus Yoro, petinggi adat Bannada yang juga diyakini sebagai turunan Raja Porodisa ke-11.

Ada hukum adat di desa ini yang wajib dipatuhi warga desa, maupun pengunjung yang datang. Yakni tak boleh melakukan hal-hal yang melanggar norma-norma. Misalnya mabuk-mabukan, berbuat onar dan tindakan tak baik lainnya.

"Hukum adat itu harus dipenuhi. Ini membuat warga desa terus berbuat baik, sehingga kami nyaris tak perlu polisi. Ini yang terus kami jaga agar karakter warga desa terjaga," ujar Julianus.

Bannada, dipercaya sebagai desa tertua di Talaud tempat bermula Kerajaan Porodisa atau Kerajaan Talaud. Kerajaan Porodisa berawal pada abad ke-10 SM, saat hadirnya manusia pertama yang mendiami Talaud yang diyakini bermukim di Bannada.

Dia adalah seorang wanita cantik yang tinggal di gunung yang jaraknya sekitar 5 kilometer dari desa. Wanita ini penyendiri.

Baca Juga: Asal Usul Hantu Wewe Gombel, Hantu Indonesia yang Suka Culik Anak

Satu ketika dia mendengar suara yang menyebutkan tanah yang didiaminya akan diberikan kepadanya dan keturunannya. Dan ia juga akan diberi pendamping hidup. Tetapi ia harus menghadap mata angin Selatan. Ia kemudian bertemu ikan mas yang tiba-tiba menjelma menjadi seorang pria tangguh. Dari situlah kerajaan Porodisa diyakini dimulai.

Jejak Kerajaan Porodisa itu kini masih bisa disaksikan di Bannada. Komplek pekuburan Raja Porodisa di tepi pantai menjadi salah satu bukti bahwa Bannada dulunya menjadi wilayah penting Porodisa. Begitupula dengan beberapa peninggalan kerajaan yang hingga kini masih tersimpan rapi.

Benda-benda itu antara lain, berbagai peralatan jamuan makan raja, peralatan perhiasan raja, porselen, benda-benda penyembahan, dan beberapa barang lainnya.

"Kami selalu dinasehati untuk terus menjaga benda-benda warisan ini dan dilarang untuk menyerahkan kepada orang lain," jelas Julianus yang diserahi tugas menyimpan benda-benda pusaka tersebut.

Tugas Julianus dan para tetua adat di Bannada untuk menjaga barang-barang terasa sedikit berat. Pasalnya, tidak ada tempat khusus seperti meseum untuk mencegah dari kerusakan. Alhasil, warisan kerajaan itu hanya disimpan di rumah yang sekaligus dijadikan sebagai Kantor Desa.

Banyak kolektor yang mengetahui keberadaan benda-benda warisan leluhur itu, mendatangi Bannada seraya membujuk para tetua untuk melepasnya. Tetapi komitmen dari para tetua adat sudah bulat, bahwa warisan dari Payung Utara, nama lain dari Kerajaan Porodisa, harus tetap berada di Bannada.

Keseharian Bannada adalah desa yang sangat sederhana, hanya beberapa rumah yang punya pasokan listrik. Walau memang sebagian dari masyarakatnya masih memercayai hal-hal mistik, namun kegiatan keagamaan di desa ini berjalan dengan sangat baik.

Begitu juga dengan kegiatan sosial kemasyarakatannya. Masyarakat Bannada sangat ramah, terlebih kepada orang baru. Mereka akan menyambutnya dengan senyuman hangat serta candaan dan kehangatan. Konon, mereka yang akan ke Bannada, dengan niat jahat takkan menemukan lokasi desa ini.


Share :

HEADLINE  

Kaesang Optimis PSI Tembus Senayan Minta Kader Kawal Real Count

 by Andrico Rafly Fadjarianto

February 17, 2024 09:44:02


Hasil Real Count KPU Sulawesi Tengah: Suara PSI Tembus 4,17%

 by Andrico Rafly Fadjarianto

February 16, 2024 21:11:41


Pemuka Agama Himbau Semua Terima Hasil Pemilu, Saatnya Rekonsiliasi

 by Andrico Rafly Fadjarianto

February 16, 2024 13:44:30