Correcto - Portal Berita Terbaru Berita Viral Terbaru
Foto
Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly mengatakan, keberhasilan mengekstradisi pelaku kasus pembobolan Bank BNI Maria Pauline Lumowa tak lepas dari diplomasi hukum dan hubungan baik antara Indonesia dan Serbia. Foto: Humas Kemenkumham

Maria Pauline Lumowa Diekstradisi, Yasonna: Menunjukkan Komitmen Kehadiran Negara

Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly mengatakan, keberhasilan mengekstradisi pelaku kasus pembobolan Bank BNI Maria Pauline Lumowa tak lepas dari diplomasi hukum dan hubungan baik antara Indonesia dan Serbia. 

"Indonesia dan Serbia memang belum saling terikat perjanjian ekstradisi, namun lewat pendekatan tingkat tinggi dengan para petinggi Pemerintah Serbia dan mengingat hubungan sangat baik antara kedua negara, permintaan ekstradisi Maria Pauline Lumowa dikabulkan," kata Yasonna dalam siaran pers, Rabu 8 Juli 2020.

Ekstradisi Maria juga tak lepas dari asas resiprositas atau timbal balik antarkedua negara. 

Sebelumnya Indonesia sempat mengabulkan permintaan Serbia untuk mengekstradisi pelaku pencurian data nasabah Nikolo Iliev pada 2015. 

Baca Juga: Harga Emas Antam, Naik Rp. 6000/gram, Waktunya Jual Kah?

Yasonna juga menyebut ekstradisi Maria ini sebagai komitmen pemerintah dalam upaya penegakan hukum yang berjalan panjang. Ia menuturkan, pemerintah telah bergerak cepat dengan meminta percepatan proses ekstradisi terhadap Maria setelah Maria ditangkap NCB Interpol Serbia pada Juli 2019 lalu.

"Ekstradisi ini sekaligus menunjukkan komitmen kehadiran negara dalam upaya penegakan hukum terhadap siapa pun yang melakukan tindak pidana di wilayah Indonesia," kata Yasonna.

Sekedar informasi, Maria Pauline Lumowa merupakan salah satu tersangka pelaku pembobolan kas bank BNI cabang Kebayoran Baru senilai Rp 1,7 triliun lewat Letter of Credit (L/C) fiktif. 

Kasusnya berawal pada periode Oktober 2002 hingga Juli 2003. Ketika itu Bank BNI mengucurkan pinjaman senilai 136 juta dolar AS dan 56 juta Euro atau sama dengan Rp 1,7 triliun dengan kurs saat itu kepada PT Gramarindo Group yang dimiliki Maria Pauline Lumowa dan Adrian Waworuntu.

Baca Juga: Pelaku Vandalisme di JPO GBK Diburu Polisi

Aksi PT Gramarindo Group diduga mendapat bantuan dari "orang dalam" karena BNI tetap menyetujui jaminan L/C dari Dubai Bank Kenya Ltd., Rosbank Switzerland, Middle East Bank Kenya Ltd., dan The Wall Street Banking Corp yang bukan merupakan bank korespondensi Bank BNI. 

Pada Juni 2003, pihak BNI yang curiga dengan transaksi keuangan PT Gramarindo Group mulai melakukan penyelidikan dan mendapati perusahaan tersebut tak pernah melakukan ekspor. 

Dugaan L/C fiktif ini kemudian dilaporkan ke Mabes Polri, namun Maria Pauline Lumowa sudah lebih dahulu terbang ke Singapura pada September 2003, sebulan sebelum ditetapkan sebagai tersangka oleh tim khusus yang dibentuk Mabes Polri. Belakangan, Maria diketahui berada di Belanda pada 2009 dan sering bolak-balik ke Singapura.

Foto: Kompas.com. Antara



Tag :

Ekstradisi MariaYasonna LaolyMaria Pauline LumowaBank BNI

Artikel Terkait :

  • Merinding! Ini Beberapa Kejadian Aneh dan Seram yang Pernah Terjadi di Istana Negara

  • Jokowi Teken PP Alih Status Pegawai KPK Jadi ASN, Ini Isinya

  • Seram! Tak hanya di Indonesia, Ternyata Kuntilanak Juga Ada di Negara Ini Lho

  • Yuk Disimak dan Dicatat, Ini Pelanggan yang Raih Stimulus dari PLN


  • Share to: