Wah sony menggelar sayembara mencari "bug" atau celah keamanan pada PlayStation Network dan konsol PlayStation 4 (PS4).
Bahkan tak hanya itu saja pasalnya juga tak tanggung-tanggung, Sony menawarkan total hadiah mencapai 50.000 dollar AS atau Rp 713 juta.
Tak hanya itu saja bahkan dalam sayembara "Bug Bounty Program" ini, Sony mengajak para pencinta game, pengamat keamanan sistem, hingga masyarakat dari berbagai kalangan untuk turut berpartisipasi dalam acara ini.
Baca Juga: Duh, Kekayaan Mark Zuckerberg Lenyap Rp 102,6 Triliun Gara-gara Coca-Cola
"Saya senang untuk mengumumkan bahwa hari ini bahwa kami memulai program PlayStation Bug Bounty karena faktor keamanan produk merupakan hal paling utama untuk menciptakan pengalaman yang terbaik bagi komunitas kami," kata Senior Director Software Engineering Sony Geoff Norton.
Nantinya para peserta akan diminta untuk mencari "bug" yang berpotensi muncul dalam sistem dan aksesori konsol PS4.
Bahkan peserta juga dipersilakan untuk mencari celah keamanan pada infrastruktur jaringan PlayStation Network dan sejumlah situs PlayStation terkait.
Jumlah hadiah yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari 100 dollar AS (Rp 1,4 juta) hingga 50.000 dollar AS (Rp 713 juta), tergantung tingkat kesulitan serta jenis kerusakan keamanan sistem yang ditemukan.
Bahkan di ketahui bahwa jumlah hadiah ini lebih besar dari program serupa yang digelar oleh Microsoft dan Nintendo. Kala itu Nintendo dan Microsoft menawarkan hadiah sebesar Rp 285 juta untuk penemu "bug".
Baca Juga: Recci Lustre, Powerbank dengan QC3.0, PD 18W, dan Wireless Charging
Nintendo merupakan perusahaan pertama yang meluncurkan program ini pada tahun 2016 lalu dan disusul Microsoft yang meluncurkan sayembara serupa untuk Xbox pada Januari 2020.
Tak hanya itu saja bahkan pada kesempatan ini, Sony juga bekerja sama dengan HackerOne, sebuah platform bagi para hacker untuk mendapat pekerjaan bug bounty. HackerOne juga pernah bekerja sama dengan sejumlah perusahaan seperti seperti PayPal, Twitter, Snapchat, Shopify, General Motors, Slack, dan Uber.
Bahkan tak hanya it saja bahkan sebelum dibuka untuk publik, Sony sudah lebih dulu menggelar program ini secara diam-diam sejak tahun lalu dan hanya melibatkan sejumlah peneliti saja.