Tiga jam terombang-ambing di tengah lautan akibat mengalami kerusakan mesin 39 wisatawan berhasil dievakuasi Tim SAR Sibolga dari Kapal Motor Doa Pama di Kawasan Perairan Pulau Mursala, Minggu (21/6/2020). Beruntung seluruh penumpang selamat meski sempat dicekam ketakutan akibat dihantam gelombang tinggi.
Sebelumnya seluruh wisatawan yang berjumlah 39 orang ini rencananya akan berwisata Kepulauan Kalimantung, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara namun terombang-ambing di Kawasan Perairan Pulau Mursala selama tiga jam lamanya akibat mengalami kerusakan mesin kapal.
Baca Juga: Ada Anak Panah dan Tombak yang Diamankan Polisi dari Markas John Kei
Penumpang yang didominasi kaum ibu-ibu dan anak-anak serta laki-laki itu selanjutnya dibawa Kapal KM Nakula milik Pos SAR Sibolga menuju ke Pelabuhan Perikanan Nusantara, Sarudik, Tapanuli Tengah.
Tidak ada satu para wisatawan yang dievakuasi oleh tim SAR tersebut mengalami gangguan kesehatan meski sebelumnya para wisatawan itu sempat merasakan hantaman ombak setinggi 4 meter.
Abdi Tanjung salah seorang wisatawan yang dievakuasi mengatakan, semula mereka berangkat dari salah satu tangkahan di Kota Sibolga dalam keadaan normal menuju ke Pulau Kalimantung yang jarak tempuhnya sekitar tiga jam dari Kota Sibolga.
“Namun di tengah perjalanan tiba-tiba saja mesin Kapal KM Doa Pama mengalami kerusakan dan tidak bisa lagi beroperasi. Meski sempat diperbaiki oleh ABK kapal,” kata dia, Senin (22/6/2020).
Baca Juga: Menlu Sebut 116.239 WNI Telah Kembali ke Indonesia Selama Pandemi Corona
Menurut dia, untuk menyelematkan anak-anak dan para wanita yang yang ikut serta dalam rombongan itu mereka meminta pertolongan kepada sebuah kapal tempel yang kebetulan melintas di lokasi kejadian untuk dibawa ke pulau terdekat.
“Ini dikarenakan cuaca semakin buruk dan disertai gelombang tinggi. Usai bertahan selama kurang lebih tiga jam di lautan akhirnya pertolongan pun tiba,” timpalnya.
Sementara itu Petugas Pos SAR Sibolga Arianto Telambenua menjelaskan, seluruh penumpang berhasil dievakuasi dengan selamat meski kapal terus diterjang ombak dan angin kencang.
“Para korban kemudian dicek kesehatannya sebelum diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing,” kata Arianto Telambenua.