Lonjakan tagihan listrik belakangan ini banyak dikeluhkan masyarakat beberapa waktu terakhir. Seperti halnya Teguh Wuryanto, warga Lawang, Kabupaten Malang. Tagihan listrik pada Mei 2020 tembus Rp 20 juta lebih, biasanya kurang dari Rp 2,5 juta.
Bahkan tak hanya itu saja bahkan pelanggan PLN bernama Teguh Wuryanto, asal Lawang, Kabupaten Malang ini viral, setelah mengadukan masalah ini ke grup pengaduan pelayanan publik Malang Raya, di Facebook, Rabu 3 Juni 2020 lalu.
Baca Juga: Kementerian BUMN Sebut Tarif Listrik Tetap Sejak 2017
1. Tagihan listrik Teguh maksimal Rp2 juta selama 27 tahun
Bahkan tak hanya itu saja pasalnya dalam grup tersebut, Teguh menceritakan selama menjadi pelanggan PLN sejak 1997, dia tidak pernah menunggak pembayaran listrik, sebab usaha las milikmya tergantung dengan listrik. Jika menunggak listrik pun padam.
Menurut Teguh, rata-rata penggunaan listrik berkisar Rp985 ribu hingga Rp2,2 juta. Tergantung kondisi bengkel.
"Dan itu sudah berjalan normal sejak 1997 sampai 2019. Masalah mulai terjadi saat ada penggantian meteran baru, dari meteran manual diganti menjadi meteran digital pada Januari 2020," tulis dia.
2. Tagihan listrik mulai naik turun pada Mei April
Bahkan pasalnya, Teguh senang karena penggantian meteran digital tidak dipungut biaya. Namun, setelah diganti meteran baru ada peningkatan, meski tidak banyak.
Bahkan, menurut Teguh, hingga Februari lonjakan tagihan listrik masih wajar. Kecurigaanya mulai muncul saat Maret dan April tidak ada petugas PLN yang mencatat meteran, seperti bulan biasanya.
"Katanya rumah kami kosong gak ada orangnya, padahal selama 23 tahun gak pernah seperti itu. Tapi lagi-lagi karena tagihan listriknya yg muncul bulan Maret 2020 dan April 2020 biasa2 saja, turun dan naik dalam batas wajar (sama seperti selama ini 23 tahun)... kami tidak curiga...," beber dia dalam unggahan tersebut.
Baca Juga: PLN Tegaskan Tidak Ada Kenaikan Tarif Listrik Sejak 2017
Kemudian, pada Mei 2020 ada petugas PLN yang datang dan mencatat meterannya.
3. Teguh kaget tagihan listrik membengkak hingga Rp20.158.686
Bahkan tak hanya itu saja Teguh juga sudah mendatangi kantor PLN Cabang Lawang dan PLN Malang. Namun sayang, PLN menilai tagihan tersebut karena Teguh dinilai teledor dan harus melunasi tagihan tersebut, jika masih ingin berlangganan. PLN sudah memutuskan aliran listrik sejak 31 Mei.
"Entah, pakai apa kami untuk melunasinya, kami saat ini benar-benar tidak berdaya, kami telah terdampak COVID19, dan usaha kami terseok-seok untuk hanya sekadar bertahan hidup," ungkap Teguh.