Melalui akun Twitter resminya (@chedetofficial), Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad mengirimkan surat pengunduran diri kepada Raja (Yang Dipertuan Agung) Malaysia, Abdullah, pada hari ini, Senin 24 Februari 2020.
Malaysiakini memantau, para petinggi Partai Pribumi Bersatu Malaysia dilaporkan mendatangi kediaman Mahathir. Mahathir memimpin partai tersebut yang didirikan pada 7 September 2016 lalu.
Informasi pengunduran diri Mahathir, dalam laporan The Star, muncul setelah Ketua Partai Keadilan Rakyat (PKR), Anwar Ibrahim, beserta istri yang juga Wakil Perdana Menteri Malaysia, Wan Azizah Wan Ismail, serta Menteri Keuangan sekaligus Ketua Partai Aksi Demokratis (DAP), Lim Guan Eng, datang ke Kantor Perdana Menteri di Putra Perdana untuk rapat pada pukul 09.26 waktu setempat. Namun, mereka meninggalkan kantor tersebut pada pukul 10.25 waktu setempat, dan diduga menuju kediaman Mahathir di Mines, Kuala Lumpur.
Rapat dadakan dan tertutup digelar oleh sejumlah petinggi PKR dan DAP di kantor pusat masing-masing. Anwar yang hadir dalam rapat tersebut menyatakan hasil pertemuannya dengan Mahathir sangat memuaskan.
Kendati begitu, sumber menyatakan Raja Abdullah tidak bakal menyetujui langkah Mahathir.
"Yang Dipertuan Agung akan menolaknya dan mengatakan Mahathir didukung penuh oleh parlemen," kata sumber tersebut seperti dilansir Straits Times.
Diduga langkah Mahathir itu dipicu penolakan gagasannya untuk mengubah peta koalisi pemerintahan. Sebab PKR, salah satu partai utama pendukung koalisi Pakatan Harapan yang saat ini menguasai pemerintahan, dilaporkan pecah kongsi.
Kubu Azmin Ali dan Anwar di PKR berseteru setelah masing-masing diterpa kasus video cabul dan pelecehan seksual pada 2019 lalu. Azmin lantas dilaporkan merapat kepada partai oposisi, Partai Islam SeMalaysia (PAS) dan Partai Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO).