Jakarta – Penantian 7 Tahun Menuju Layar Lebar film "Setannya Cuan" akhirnya mendapat tanggal rilis resmi pada 5 Maret 2026. Film garapan Sahrul Gibran dan Jay Sukmo ini sempat tertunda cukup lama karena proses produksinya dilakukan sebelum pandemi Covid-19.
Bagi Gabriella Desta, film ini punya cerita tersendiri. Ia mendapatkan peran Nenden saat masih berusia 22 tahun dan harus menunggu hampir tujuh tahun hingga karyanya benar-benar tayang di bioskop.
Jadi Nenden, Mak-Mak yang Hobi Kumpul
Dalam film ini, Gabriella Desta memerankan Nenden, salah satu ibu-ibu desa yang gemar berkumpul dan membahas berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar mereka.
“Saya menjadi Nenden, salah satu dari para ibu yang tinggal di desa itu dan memang suka berkumpul tiap sore. Layaknya ibu-ibu menongkrong, pagi-pagi beli sayur, terus kita ngomongin peristiwa apa saja yang terjadi di desa itu. Gibah,” katanya.
Meski begitu, Gabriella menegaskan bahwa dalam kehidupan nyata ia tak terlalu suka bergosip. “Kebetulan saya enggak suka gibah. Menurut saya, kalau kita bergosip, jatuhnya transfer data dan informasi. Sekarang istilahnya lebih ke sharing dan caring. I listen and i don’t judge ha ha ha,” ujarnya.
Baca Juga: Fariz RM Hijrah Usai Bebas, Pilih Tinggalkan Ponsel dan Medsos
Konflik Dua Jawara dan Pesugihan
Setannya Cuan berkisah tentang persaingan dua jawara desa, Adang (Joe P Project) dan Asep (Anyun Cadel), yang memperebutkan kursi lurah. Setelah menang, Adang justru mengalami nasib buruk—bangkrut dan ditinggal istri. Sementara Asep makin kaya dan mampu melunasi utang-utang Adang.
Konflik makin panas ketika keduanya juga bersaing memperebutkan Mince (Nadine Alexandra). Di balik kekayaan Asep, terkuak fakta bahwa ia menang judi togel dengan bantuan dukun Rojan (Candil). Situasi berubah mencekam ketika muncul syarat tumbal yang mengarah pada aksi kriminal.
Tak Banyak Omong Tapi Ikut Nimbrung
Karakter Nenden berada di tengah pusaran konflik warga desa yang geger akibat isu pesugihan dan kematian.
“Untuk karakternya, dia tipe ibu yang enggak terlalu banyak omong tapi ngikut. Aku kayak anak kucing yang ikut ibu-ibu lain. Ya, enggak ikut gibah tapi mengumpulkan informasi,” ucap Gabriella Desta.
Nenden bukan sosok dominan, tetapi kehadirannya memberi warna dalam dinamika sosial desa.
Tantangan Bahasa Sunda dan Adegan Chaos
Ada tantangan tersendiri bagi Gabriella Desta selama proses syuting, terutama karena ia tidak terbiasa menggunakan bahasa Sunda.
“Dan bagian susahnya, aku aslinya enggak ngomong bahasa Sunda. Di sini diminta berbahasa Sunda. Kak Mega Carefansa kan asal Bandung, aku belajar sama dia karena kebanyakan scene-nya sama dia,” paparnya.
Selain itu, adegan-adegan horor komedi yang melibatkan kekacauan dan elemen api juga cukup menguras energi.
Tema Lama yang Tetap Relevan
Meski berlatar era 1970-an dan diproduksi bertahun-tahun lalu, film ini dinilai masih relevan dengan kondisi sosial saat ini—mulai dari isu pesugihan, judi, hingga fenomena orang kaya baru (OKB).
“Meski syutingnya sudah 6 sampai 7 tahun lalu, dan latarnya dekade 1970-an, temanya masih relevan soal dukun, gibah, dan fenomena OKB (Orang Kaya Baru). Dalam hidup sehari-hari sekarang masih ada lo,” tutup Gabriella Desta.






