Pakar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyampaikan bahwa penetapan awal Ramadan 2026 berpotensi kembali berbeda di sejumlah wilayah. Potensi perbedaan ini berkaitan dengan posisi hilal yang diprediksi berada pada kondisi krusial saat penentuan awal bulan Hijriah dilakukan.
Menurut penjelasan pakar, perbedaan metode penetapan awal Ramadan masih menjadi faktor utama. Sebagian pihak menggunakan metode rukyat atau pengamatan langsung hilal, sementara lainnya mengacu pada hisab atau perhitungan astronomi. Ketika posisi hilal berada di batas minimum visibilitas, perbedaan interpretasi kerap tidak terhindarkan.
Selain metode, faktor geografis juga turut memengaruhi hasil pengamatan. Perbedaan letak wilayah Indonesia yang membentang luas menyebabkan peluang terlihatnya hilal tidak selalu sama di setiap daerah. Kondisi cuaca dan tingkat kecerahan langit pada waktu pengamatan juga berperan penting dalam menentukan hasil rukyat.
Pakar BRIN menilai bahwa secara ilmiah, potensi perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar dan dapat dijelaskan melalui pendekatan astronomi. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk memahami bahwa perbedaan penetapan awal Ramadan bukanlah persoalan keyakinan, melainkan konsekuensi dari pendekatan ilmiah yang digunakan.
Pemerintah diharapkan dapat terus menyampaikan informasi secara terbuka dan edukatif agar masyarakat memahami proses penetapan awal Ramadan. Dengan komunikasi yang baik, perbedaan yang mungkin terjadi diharapkan tidak menimbulkan polemik, melainkan dapat disikapi dengan sikap saling menghormati dan menjaga persatuan.






